LombokPost -Air terjun Jeruk Manis, tidak hanya dapat dinikmati dari sisi keindahan alam dan kesegaran airnya. Namun bagi pencinta ketinggian, juga bisa menikmati olahraga rope swing dan Canyoneering di atas ketinggian 80 meter.
Memasuki gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Jeruk Manis, hawa sejuk khas pegunungan langsung menyambut. Sejak pagi, kendaraan roda dua mulai memadati areal parkir.
Di sisi parkiran, puluhan perempuan muda tampak fokus mengikuti arahan pemandu wisata. Hari itu, mereka bersiap menjajal canyoneering dan rope swing di Air Terjun Jeruk Manis. Dua aktivitas pemacu adrenalin ini tergolong baru di destinasi wisata Air Terjun Jeruk Manis.
Owner Canyoneering dan Rope Swing Air Terjun Jeruk Manis Ofik mengatakan, meski menjadi aktivitas baru di destinasi, minat pengunjung cukup tinggi. “Kegiatan canyoneering sudah banyak di Lombok. Di Jeruk Manis saja ada dua tempat. Tetapi yang paling ramai di sini,” terang Ofik kepada Lombok Post saat ditemui di poskonya, Minggu (28/6).
Ofik menyebut, canyoneering termasuk olahraga berisiko tinggi. Bahkan, bisa bertaruh nyawa. Karena itu, ia memastikan seluruh perlengkapan benar-benar aman. Terutama tali yang digunakan sudah sesuai standar.
Tim yang terlibat juga dibagi menjadi dua. Tim satu beranggotakan dua orang profesional dan sudah memiliki sertifikat di bidang canyoneering. Sementara tim dua beranggotakan pemuda setempat.
Baca Juga: Pemuda Asal Desa Pendua Hilang Terseret Pusaran Air Terjun Tiu Bombong
“Tim satu tugasnya di atas air terjun, mereka betul-betul orang profesional. Dia bertugas memberikan arahan. Kalau tim dua hanya memegang dan membuka tali saja,” jelasnya.
Di beberapa air terjun, peminat canyoneering mulai berkurang. Namun, khusus di Air Terjun Jeruk Manis, peminatnya justru meningkat. Selain ditangani tenaga profesional, daya tarik utamanya ada pada ketinggian air terjun yang mencapai 80 meter.
Canyoneering di Air Terjun Jeruk Manis menjadi yang tertinggi di Lombok. Pemandangan air terjun juga menjadi daya tarik lain. Hampir setiap hari selalu ada pengunjung yang datang untuk mencoba canyoneering maupun rope swing.
Baca Juga: Air Terjun Tibu Ijo Jadi Sumber Air Bersih Warga, Berenang dan Mandi Harus Jaga Etika
“Setiap hari selalu ada yang datang, kecuali hari Jumat. Kalau hari-hari biasa itu sekitar 14-15 orang yang datang. Kalau hari Sabtu dan Minggu lebih dari itu,” jelasnya.
Rata-rata peminat olahraga ini berasal dari kalangan perempuan. Tujuan mereka bukan semata-mata menyukai ketinggian. Banyak juga yang datang untuk kebutuhan foto dan konten media sosial, seperti Facebook, TikTok, dan Instagram.
Bukan hanya itu, olahraga ini juga kerap dijadikan sebagai obat galau. Terutama setelah putus dengan pacar. Bahkan, tidak sedikit pengunjung melakukan booking privat hanya untuk mengobati rasa sakit hati.
Baca Juga: Air Terjun Tibu Ijo yang Viral, Antara Zamrud Alam Membius dan Tabu Tak Boleh Dilanggar
“Kami sudah siapkan fotografer sehingga foto yang dihasilkan betul-betul bagus. Makanya banyak yang minat,” katanya.
Adapun rope swing menjadi yang pertama di Lombok. Olahraga ini baru satu minggu dibuka. Karena itu, peminatnya belum sebanyak canyoneering.
Tarif rope swing dikenakan Rp 325 ribu per orang. Sementara canyoneering Rp 200 ribu per orang. Harga itu sudah termasuk tiket masuk dan asuransi peserta.
Baca Juga: Surga Tersembunyi di Balik Letusan Tambora, Pesona Air Terjun Oi Marai yang Bikin Nagih
“Sebagian besar yang ikut ini dari lokal, kalau dari bule belum ada,” katanya.
Belum adanya tamu mancanegara yang mencoba olahraga ini disebabkan tiket masuk kawasan bagi wisatawan asing cukup mahal. Tiket masuk kawasan dikenakan Rp 160 ribu per orang. Belum termasuk biaya canyoneering atau rope swing. Karena itu, pengelola belum bisa menerima tamu luar negeri.
Editor : Marthadi