Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kopi Sembalun Butuh  Perawatan Lebih Baik

Supardi • Kamis, 2 Juli 2026 | 13:50 WIB
Mirza Sofian
Mirza Sofian

 
LombokPost-Dinas Pertanian Lombok Timur (Lotim) meminta petani kopi di Kecamatan Sembalun, memperbaiki cara tanam dan 
merehabilitasi lahan. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi kopi.

”Produksi kita saat ini masih sangat rendah. Antara 1 hingga 1,5 ton per hektare. Karena perawatan kopi masih kurang bagus dilakukan para petani kita,” terang Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Lotim Mirza Sofian, Rabu (1/7).

Metode tanam petani saat ini masih menggunakan tumpang sari. Dalam satu kebun atau lahan, petani menanam berbagai jenis tanaman.

Bahkan, tidak jarang kopi hanya ditanam tanpa perawatan maksimal. Padahal, pemerintah sudah menyediakan pupuk subsidi bagi petani kopi.

Baca Juga: Sensasi Menikmati Kopi Kumbi Desa Pakuan, Aroma Lereng Rinjani yang Disiapkan Menjadi Magnet Ekowisata

”Kami harapkan petani itu pertama merehabilitasi kebunnya, mengatur jarak tanamnya. Bisa juga tumpang sari. Asalkan tidak terlalu banyak jenis tanaman,” katanya.

Dia mengatakan, saat ini banyak petani menanam kopi bersama pisang. Akibatnya, yang tumbuh subur hanya pisang dan mengganggu tanaman kopi.Jika digarap secara maksimal, ia memastikan hasil akan meningkat dan berdampak terhadap kesejahteraan petani.

Jenis kopi yang ditanam menurutnya tidak mesti satu jenis. Paling penting, cara budi daya dilakukan dengan benar.

”Kalau masalah rasa dan aroma itu, kuncinya di pengolahan pascapanen. Pembeli juga akan menerima jenis kopi apa saja, arabika maupun robusta,” katanya.

Baca Juga: UMKM Sembalun Didorong Naik Kelas, Tenun dan Kopi Siap Diperkuat Lewat Legalitas dan Kekayaan Intelektual

Ia melihat tren menanam kopi di Lotim, terutama di Sembalun, kembali meningkat. 
Bahkan, banyak petani beralih dari petani 
sayur menjadi petani kopi. Hal ini dipengaruhi harga kopi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Harga kopi robusta saat ini di angka Rp 75 ribu per kilogram, bahkan lebih. Sementara jenis arabika sudah menembus Rp 100 ribu lebih per kilogram dalam bentuk bubuk.

”Kalau kopi yang diekspor itu tergantung dari kualitas saat panen. Saat panen dipilih biji yang merah-merah saja. Tetapi petani kita saat panen dilakukan dengan sembarangan. Itu yang merusak kualitas,” katanya.

Baca Juga: Belajar Meracik Kopi di Loka Coffee
Tahun ini, Distan Lotim mendapat bantuan bibit kopi jenis arabika dari pusat untuk 490 hektare.

Per hektare, petani akan mendapat bantuan seribu bibit. Bantuan ini akan disebar di sejumlah lokasi, mulai Kecamatan 
Montong Gading, Aikmel, Suela, Lenek, dan paling banyak di Kecamatan Sembalun yang mencapai 198 hektare.

Selain bantuan bibit, petani juga difasilitasi upah menanam. Dari segi lahan, Lotim sangat potensial untuk ditanami kopi. Kopi tidak hanya dapat tumbuh di dataran tinggi, tetapi juga potensial di dataran rendah. 

Editor : Kimda Farida
#Arabika Sembalun #robusta #Petani #sembalun #kopi