Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kupinde, Kedai Kopi Kontainer yang Cetak Barista Andal, Jadi Tempat Nongkrong Favorit Bule di Tetebatu Selatan

Supardi • Rabu, 8 Juli 2026 | 09:18 WIB
BUAT KOPI: Seorang Barista sedang membuat kopi untuk tamu yang sedang menikmati kopi di Kupinde Tetebatu Selatan.
BUAT KOPI: Seorang Barista sedang membuat kopi untuk tamu yang sedang menikmati kopi di Kupinde Tetebatu Selatan.

LombokPost-Kupinde merupakan salah satu coffee shop sederhana di Desa Tetebatu Selatan.

Meski terbuat dari kontainer sederhana, tempat ini tidak pernah sepi pengujung, terutama wisatawan asing. Bahkan bisa melahirkan barista profesional dan sukses. 

Sebuah kontainer sederhana berdiri tepat di samping kiri Kantor Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur. Tempatnya tidak terlalu luas. Namun, tertata cukup rapi dan klasik.

 Di sampingnya, hanya ada beberapa kursi plastik dan satu meja kecil sebagai tempat duduk.

Meski sederhana, tempat ini tidak pernah sepi dari wisatawan asing dari berbagai negara.

Dari kontainer sederhana itu juga lahir para barista profesional di Lombok Timur (Lotim). Tempat ini dinamakan Kupinde. 

Baca Juga: Bule Asal Swiss Masuk Islam di Tetebatu

Pemilik Kupinde Reza Hamzani menceritakan, kedai kopi itu dibuat sekitar 2025 bersama rekannya.

Sebelumnya, ia hanya menjadi pemandu wisata di Desa Tetebatu Selatan dan sekitarnya.

Namun, untuk memanfaatkan kontainer milik temannya yang tidak terpakai, ia mencoba membuat kedai kopi sederhana. Meskipun ia sendiri tidak memiliki keahlian khusus meracik kopi.

“Sebelumnya saya memang punya alat kopi untuk membuat kopi untuk kebutuhan pribadi dan sebagai alat untuk belajar. Saya belajar dari YouTube dan diskusi bersama para pegiat kopi,” terang pemuda yang akrab dipanggil Eza ini saat ditemui di kedai kopinya, Senin (6/7).

Meski tergolong baru dan sederhana, tempat ini hampir tidak pernah sepi pengunjung sejak awal dibuka. Bahkan, pada bulan pertama, kedai ini langsung mendapat respons positif dari tamu-tamu. Terutama wisatawan asing yang berkunjung ke Desa Wisata Tetebatu Selatan dan sekitarnya.

Baca Juga: Berkunjung ke Destinasi Baru di Desa Tetebatu, Air Terjun Lembah Rinjani Menawarkan Suasana Alami dengan Tiket Masuk Rp 5 ribu

Eza mengatakan, pada awal dibuka, omzet yang didapatkan melampaui target. Dari target Rp 500 ribu, omzetnya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per hari. Penghasilan ini cukup besar dengan tempat terbatas dan perlengkapan seadanya.

“Kami alatnya sederhana dan harganya juga masih standar lokal,” katanya.

Kendati demikian, dari sisi rasa dipastikan tidak kalah dengan kopi-kopi yang disajikan di coffee shop lain. Menu kopi yang disajikan juga cukup lengkap. Mulai kopi biasa, espresso, latte, americano, hingga vietnam drip.

Baca Juga: Merawat Manis Gula Aren dari Pedalaman Desa Tetebatu Selatan

“Alhamdulillah kami selalu dapat bintang lima di Google,” katanya.

Kedai ini bukan hanya tempat tongkrongan biasa. Namun, juga menjadi wadah belajar bagi anak-anak muda, khususnya di Desa Tetebatu Selatan dan sekitarnya. Terutama bagi mereka yang ingin terjun di dunia barista dan pariwisata. Ia tidak memberikan persyaratan khusus bagi anak muda yang ingin bekerja di tempat ini.

Terpenting baginya, mereka ingin belajar, disiplin, dan menjadi lebih baik. Dari tempat sederhana ini, ia berhasil melahirkan barista profesional yang saat ini bekerja di beberapa kafe besar dan ternama di Lombok.

Baca Juga: STP Mataram Dampingi Desa Tetebatu Kembangkan Paket Wisata Edukatif Berbasis Potensi Lokal

“Ada juga yang buat kedai kopi sendiri dan sekarang sukses,” ungkapnya.

Tidak hanya menjadi tempat mendalami ilmu meracik kopi. Tempat sederhana ini juga menjadi ruang untuk belajar bahasa asing. Terutama bagi anak muda yang ingin bekerja di luar negeri.

Sebab, lokasi ini juga menjadi basecamp untuk menawarkan paket wisata kepada wisatawan. Dari sana, para barista yang bekerja di tempat ini bisa belajar bahasa Inggris dengan pengunjung.

Baca Juga: Kisah Naim Pemuda Desa yang Ikut Menggerakkan Wisata Tetebatu (2-Habis)

Ia berharap, ke depan kedai kontainer sederhana miliknya bisa dikembangkan menjadi lebih besar. Dengan begitu, semakin banyak anak muda yang diberdayakan. Sebab baginya, tempat ini bukan hanya soal uang, melainkan untuk membantu sesama.

“Ada rasa bahagia dan sangat bersyukur bisa membantu teman-teman ini," tutupnya. (*/r7)

Editor : Kimda Farida
#Tetebatu #kopi #Lotim #Desa Wisata #Pariwisata