LombokPost-Visa ke Australia belum juga keluar ketika Mantara mulai mengisi waktu dengan berkeliling kebun stroberi di Sembalun. Berbekal telepon genggam, ia menyiarkan buah-buah merah milik petani melalui TikTok. Keisengan itu perlahan mengubah rencana hidupnya.
Puluhan pengunjung menenteng keranjang kecil di antara bedengan stroberi. Mereka berpindah dari satu bedengan ke bedengan lain, memetik buah yang matang. Sebagian langsung menyantapnya. Sisanya masuk ke keranjang untuk dibawa pulang.
Buah stroberi berukuran cukup besar memenuhi hampir setiap petak sawah. Pengunjung terlihat antusias memetik buah sekaligus mengabadikan momen. Lahan-lahan itu dikelola kelompok pemuda yang tergabung dalam Monjet Stroberi.
Baca Juga: Libur Sekolah, Monjet Stroberi Diserbu Seribu Pengunjung
Pendiri Monjet Sembalun, Mantara, menceritakan, Monjet Stroberi Sembalun mulai dirintis pada 2024. Semua bermula dari keisengannya mengunggah buah stroberi melalui akun TikTok pribadi sambil menunggu keberangkatan ke Australia.
“23 Oktober 2023 itu saya sudah lulus tes IELTS untuk pergi ke Australia. Tapi selama visa belum keluar, saya iseng-iseng posting stroberi dan sayur-sayuran,” beber Mantara saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Minggu (19/7).
Unggahan stroberi itu mendapat respons positif dari warganet. Banyak orang bertanya dan meminta berkunjung. Padahal, saat itu belum ada pengelola agrowisata petik stroberi.
Baca Juga: Waktu Panen Stroberi Sembalun Dimulai Mei
Setelah beberapa orang datang, Mantara mendapat saran untuk melakukan siaran langsung di media sosial. Namun, akun yang dia kelola belum memenuhi syarat untuk melakukan siaran langsung.
“Followers saya saat itu hanya 200 orang, sementara syarat untuk siaran langsung harus seribu. Tapi waktu itu saya daftar TikTok Affiliate. Awal-awal siaran langsung saya kayak orang gila. Keliling sawah-sawah orang, saat itu ada 4 petani yang saya bantu promosikan stroberinya. Sehari 5 sampai 6 kali saya siaran langsung,” katanya.
Sejak itu, agrowisata petik stroberi di Sembalun mulai dilirik wisatawan. Mereka tidak hanya bertanya tentang agrowisata petik stroberi. Permintaan kemudian merambah ke penginapan, sayur-sayuran, lokasi berkemah, dan kebutuhan lain.
Baca Juga: Petualangan Manis di Kaki Rinjani, Wisata Petik Stroberi di Sembalun
Melihat perkembangan jumlah pengunjung, Mantara memilih fokus mempromosikan stroberi dan hasil pertanian masyarakat. Dia pun membatalkan rencana berangkat ke Australia. Pada awal 2025, dia mulai merekrut petani dan pemuda untuk membantu melayani pengunjung.
“Sejak itu tamu mulai banyak berdatangan sekitar 40 sampai 50 orang sehari datang. Sehingga awal tahun 2025 itu kami mulai rekrut petani binaan untuk memenuhi permintaan pengunjung,” katanya.
Sebelum agrowisata berkembang, harga stroberi di tingkat petani kerap anjlok hingga Rp 15 ribu per kilogram saat panen raya. Banyak buah juga terbuang karena tidak laku.
Baca Juga: Lembah Pergasingan, Tempat Asyik Berburu Stroberi dan Bunga Ester di Kaki Rinjani
Kondisi mulai berubah setelah petani bergabung dengan Monjet Stroberi melalui skema petik sendiri dan makan sepuasnya. Petani mulai kewalahan menerima pengunjung. Buah stroberi pun tidak lagi banyak terbuang.
“Di tahun 2025 itu kami juga berinovasi. Tamu yang berkunjung selain petik stroberi kita kasih mereka gratis sayur-sayuran. Kemudian kita siapkan bumbu cocolan untuk makan stroberi di lahan. Nah dari sana nama Monjet Stroberi semakin terkenal,” katanya.
Saat ini, 125 petani dengan 247 petak sawah telah bergabung dengan Monjet Stroberi. Pendapatan rata-rata petani setelah bergabung mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hari. Sebelumnya, pendapatan mereka hanya berkisar Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per hari. Perubahan itu membuat petani kembali bersemangat menanam stroberi.
Baca Juga: Layanan Kesehatan Wisatawan Sembalun Masih Terbatas
Dampaknya juga dirasakan pemuda setempat. Monjet Stroberi kini telah merekrut 42 pemuda. “Untuk biaya admin atau biaya promosi pengelolaan Monjet tidak patok harga. Berapa pun yang dikasih oleh petani. Kami di Monjet hanya bertugas promosi saja dan mengantar tamu, karena memang tujuan kami ingin membantu petani,” katanya.
Salah seorang petani stroberi Erwin mengaku baru bergabung dengan Monjet Stroberi tahun ini. Sebelum bergabung, harga stroberi kerap anjlok saat panen raya. Banyak buah juga terbuang.
“Tahun sebelumnya kalau sudah pertengahan Juli harga mulai anjlok, tetapi harga masih tergolong stabil meskipun ada penurunan, jika dibandingkan kemarin pada saat libur sekolah. Karena kunjungan sedang ramai,” jelasnya.
Baca Juga: Manisnya Bisnis Stroberi dengan Dana Pemberdayaan BRI
Keberadaan Monjet Stroberi cukup membantu petani. Ketika harga di lapak turun drastis, harga di tingkat petani masih normal. Saat panen raya, hampir tidak ada lagi buah yang terbuang atau rusak di lahan. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post