Jaga Rumah Adat, Pemkab Lotim Perkuat Mitigasi Kebakaran

Supardi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:19 WIB
BALE ADAT: Salah seorang warga yang masih menempati rumah adat sedang duduk di depan rumahnya di Limbungan Barat, Desa Perigi Kecamatan Suela, Lombok Timur.
BALE ADAT: Salah seorang warga yang masih menempati rumah adat sedang duduk di depan rumahnya di Limbungan Barat, Desa Perigi Kecamatan Suela, Lombok Timur.

LombokPost-Dinas Pariwisata Lombok Timur (Lotim) memperkuat koordinasi dengan Damkarmart untuk mengantisipasi kebakaran di bale adat Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suela. Langkah itu dilakukan menyusul kebakaran yang terjadi di Desa Wisata Sade, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.

“Kemarin saya naik ke sana (perigi) dan berdiskusi langsung dengan tokoh dan masyarakat. Salah satu yang kami bicarakan adalah antisipasi masalah kebakaran ini, supaya tidak terjadi,” terang Plt Kepala Dispar Lotim Mirayang ditemui Lombok Post di ruang kerjanya, Rabu (26/8).

Ia melihat selama ini Damkarmart selalu siaga setiap saat untuk mengatasi dan menangani kebakaran di Lotim. Bahkan, Damkarmart juga sudah membuat posko di sejumlah kecamatan. Salah satunya di Kecamatan Pringgabaya untuk memberikan penanganan lebih cepat jika terjadi bencana kebakaran di daerah timur.

Baca Juga: Pengukuhan Mangku di Bale Gendeng Pengembuk. Jadi Pembimbing serta Pengayom Masyarakat dalam Kehidupan Adat

“Tentu teman-teman Damkarmart juga selalu siaga sewaktu-waktu ada musibah terjadi,” jelasnya.

Mirayang juga menyebutkan, jaringan listrik yang ada di bale adat Limbungan tidak terlalu banyak seperti di permukiman warga pada umumnya. Di dalam rumah hanya ada satu lampu penerang.

Selain itu, jaringan listrik juga tidak melintas di atas rumah warga, namun ditanam di bawah tanah. Kondisi itu dinilai lebih aman terhadap bahaya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran.

Baca Juga: Tiga Bale Adat Sembalun Belum Jadi Cagar Budaya

“Penggunaan listrik di sana (limbungan) sangat terbatas, lampu hanya ada di dalam, tidak ada di luar. Tetapi langkah antisipasi tetap dilakukan,” katanya.

Lebih jauh, Mirayang menyampaikan, bale adat Limbungan berada di dua lokasi, yakni rumah adat barat dan timur. Tingkat hunian rumah adat di dua lokasi saat ini diperkirakan sekitar 60 persen.

Banyak masyarakat meninggalkan rumah itu dan memilih membangun rumah permanen di luar kompleks bale adat. Sebab, pembangunan rumah permanen tidak diizinkan di kompleks itu.

Baca Juga: Sertifikat Ulayat Jadi Benteng Bale Adat

“Bila seseorang mau membangun rumah yang agak modern, harus meninggalkan rumah adat itu. Sehingga sekarang banyak yang sudah kosong,” jelasnya.

Jumlah rumah adat Limbungan sebanyak 195 unit. Sebanyak 120 unit tersebar di sebelah barat dan 75 rumah di sebelah timur. Masing-masing rumah memiliki satu lumbung padi.

Menurutnya, bale adat Limbungan tidak bisa dikembangkan seperti bale adat Sade. Sebab, rumah adat Limbungan tidak memiliki atraksi wisata seperti Sade.

Baca Juga: Jadi Daya Tarik Wisatawan, Desa Adat Karang Bayan Tawarkan Bale Beleq

“Kalau di limbungan ini murni sebagai tempat tinggal saja,” jelasnya.

Selain itu, akses jalan ke bale adat juga masih sangat sempit. Kendaraan besar seperti bus sulit untuk masuk. Kendati demikian, wisatawan yang berkunjung selama ini tetap ada, namun tidak terlalu banyak seperti di Sade. Kedatangan mereka hanya untuk melihat arsitektur bangunan.

“Bale adat itu tetap dijaga meskipun sudah banyak yang kosong. Ketika ada yang rusak masyarakat akan bergotong-royong untuk melakukan renovasi kerusakan yang terjadi di sekitar bale adat,” pungkas Mirayang. (par/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
bale adat wisata budaya Kebakaran Lotim