LombokPost-Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang, Kecamatan Terara melakukan uji coba pemanfaatan teknologi pertanian berupa drone penyemprot. Teknologi ini dinilai sangat membantu petani dalam penyemprotan tanaman tembakau maupun padi.
“Tadi kami coba untuk melakukan penyemprotan menggunakan air biasa, dan hasilnya cukup bagus, pekerjaan lebih cepat selesai,” terang Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat Dusun Pengongsor, Desa Rarang, Mansur kepada Lombok Post, Jumat (28/8).
Mansur menjelaskan, selama ini penyemprotan secara manual pada lahan seluas 1 hektare bisa memakan waktu 2-3 jam. Namun, dengan bantuan alat ini hanya membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit.
Baca Juga: Melihat Oven Tembakau Listrik Pertama di Indonesia
Kapasitas drone ini juga dinilai lebih besar dari tangki manual, yakni mampu menampung disinfektan hingga 50 liter. Sementara tangki biasa paling besar hanya mampu menampung 20 liter.
“Ada dua model drone ini, ada yang kapasitas 20 liter dan ada juga yang 50 liter,” katanya.
Selain dapat mempercepat pekerjaan, penggunaan drone juga dapat menekan biaya operasional. Penyemprotan manual biasanya membutuhkan tenaga kerja 2-3 orang dalam 1 hektare lahan. Sementara drone ini hanya membutuhkan satu pilot.
Baca Juga: Dewan Minta Petani Jaga Kualitas Daun TembakauUji coba teknologi pertanian ini disebut juga sudah dibahas dengan Bupati Lotim. Keberadaan teknologi ini sangat diapresiasi. Bahkan, Pemkab Lotim berencana melakukan MoU dengan perusahaan pembuatnya.
“Tadi kami bertemu dengan pak Bupati untuk membahas teknologi ini. Bahkan ada rencana untuk MOU, Lotim akan dijadikan sebagai lokasi percontohan,” katanya.
Dalam pertemuan itu, perusahaan asal China yang melakukan pengembangan teknologi ini telah memaparkan kelebihan teknologi itu. Termasuk memaparkan oven tembakau listrik yang sebelumnya juga sudah berhasil diuji coba.
Baca Juga: DBHCHT Rp 32 Miliar Difokuskan Dukung Produktivitas Petani Tembakau NTB
Tidak hanya teknologi untuk tembakau, dalam pertemuan itu juga dibahas pengembangan alat pengering padi dengan kapasitas 300 ton dan mampu mengeringkan padi dalam waktu 4 jam.
“Kalau MoU itu jadi, nanti akan dibuat semacam BLK, atau tempat pelatihan khusus untuk pemanfaatan teknologi pertanian ini,” katanya.
Dirinya berharap teknologi ini bisa dikembangkan dan Pemkab Lotim memberikan dukungan. Sebab, tanpa dukungan dari pemerintah, menurutnya akan sulit terwujud.
“Tanpa ada dukungan dari pemerintah, saya rasa susah juga,” tutupnya.
Baca Juga: Pemkab Lotim Dorong Hirilisasi Tembakau
Terpisah, Bupati Lotim Haerul Warisin mengakui teknologi pertanian yang sedang diuji coba perusahaan China itu sangat bagus. Terutama oven tembakau listrik. Selain memudahkan pekerjaan, teknologi itu juga menekan biaya produksi.
“Memang bagus, terutama yang oven tembakau itu, karena bahan bakarnya tidak lagi menggunakan minyak, kayu,” ujarnya.
Dalam sekali produksi, oven tembakau listrik hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 900 ribu. Sementara oven biasa bisa menghabiskan biaya antara Rp 2-3 juta untuk pembelian kayu bakar. Namun, kapasitas oven itu dinilai masih sedikit, hanya mampu menampung 2,5 hingga 3 ton tembakau.
Baca Juga: Distan Lotim Minta Petani Perkuat Mitigasi Tembakau
Selain dapat mengefisiensi biaya, hasilnya juga dinilai cukup bagus, lebih wangi dan lebih kuning. Karena itu, teknologi ini dinilai sangat bagus jika dikembangkan di Lotim yang merupakan daerah penghasil tembakau.
“Hanya saja, saya tanyakan berapa harga mesin dan perangkat yang digunakan? Angkanya cukup mahal, Rp 400 juta,” jelasnya.
Harga itu, menurutnya, terlalu mahal dan petani tidak akan mampu mendapatkannya. Bahkan, biaya pembelian tidak bisa ditutupi dari hasil tembakau satu musim. Keuntungan petani semua akan tersedot untuk menutupi harga oven. Sementara kapasitas juga masih terbatas.
“Kalau Rp 40 juta mungkin bisa dilawan (dibeli, Red) sama petani,” pungkasnya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post