Getak Mako Bawa Desa Sakra Selatan Wakili NTB di Lomba Desa Berkinerja Baik Tingkat Nasional

Supardi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 07:35 WIB
BERKINERJA BAIK: Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan didampingi Wakil Bupati Lombok Timur Moh Edwin Hadiwijaya saat mengikuti penilaian lomba desa berkinerja baik tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Desa.
BERKINERJA BAIK: Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan didampingi Wakil Bupati Lombok Timur Moh Edwin Hadiwijaya saat mengikuti penilaian lomba desa berkinerja baik tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Desa.

LombokPost-Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, terpilih mewakili Provinsi NTB dalam Lomba Desa Berkinerja Baik tingkat nasional terkait konvergensi percepatan pencegahan dan penurunan stunting. Desa ini menggalakkan Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) untuk menekan pernikahan anak yang menjadi salah satu penyebab stunting.

“Berdasarkan penilaian dari kabupaten, terus provinsi alhamdulillah kita juara satu, sehingga terpilih mewakili NTB di tingkat nasional dalam lomba Desa Berkinerja Baik,” terang Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan kepada Lombok Post, Selasa (15/9).

Beberapa tahun sebelumnya, kasus pernikahan anak di Desa Sakra cukup tinggi. Namun, setelah adanya program ini, kasus pernikahan anak bisa ditekan. Terakhir, pada 2024 kasus pernikahan anak tercatat hanya lima anak.

Baca Juga: Desa Meninting Wakili Lombok Barat Lomba Tiga Pilar Kamtibmas

Sementara itu, sejak 2025 hingga 2026 belum ada laporan kasus pernikahan anak atau zero pernikahan anak. Pernikahan dini menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting sehingga menjadi fokus utama.

“Sehingga ini yang menjadi fokus kita, mencegah sumbernya,” jelasnya.

Program lain yang digalakkan adalah Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku). Melalui program ini, Pemdes Sakra Selatan memberikan bantuan makanan siap saji setiap hari kepada ibu hamil dan balita stunting. Program ini berjalan jauh sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga: Akurasi Data Desil Tuai Sorotan, Pemdes Minta Disosialisasikan

Pemdes Sakra Selatan juga membuat sumur resapan limbah rumah tangga di sembilan titik untuk mengantisipasi pencemaran air bersih warga dan lingkungan. Langkah ini dinilai sangat efektif dalam penurunan stunting di Sakra Selatan.

“Untuk program penanganan stunting ini, dulu kami anggarkan lumayan besar hingga sekitar Rp 460 juta dari dana desa, sekarang kan anggaran sudah terbatas,” katanya.

Dalam upaya penanganan stunting, Pemdes Sakra Selatan sempat memberikan bantuan berupa beras, telur, minyak, hingga gula kepada sasaran. Namun, program itu dinilai tidak efektif. Bahkan, ada isu bantuan itu dijual oleh sasaran.

Baca Juga: Baru Terbentuk, Museum Desa Sakra Berhasil Sabet Juara dalam Lomba Museum Tingkat Provinsi

“Makanya kami langsung ubah metodenya. Kami berikan makanan dan langsung dikawal kader, untuk memastikan makanan itu betul-betul dimakan balita, dan ini berhasil,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lotim Moh Edwin Hadiwijaya menyampaikan, program ini diselenggarakan Kementerian Desa. Lomba ini diikuti oleh 30 desa yang dibagi menjadi tiga zona. Masing-masing zona nantinya akan melahirkan tiga desa terbaik. Setelah itu, akan ditentukan juara 1 hingga juara 3.

“Kenapa konvergensi stunting diurus Desa? Karena ini berkaitan dengan kinerja-kinerja desa khususnya di stunting, untuk menyiapkan sumber daya manusia di masa yang akan datang, untuk mewujudkan Indonesia emas,” katanya.

Baca Juga: Bulog Intervensi 155 Anak Stunting di Kecamatan Sakra

Melihat presentasi kades Sakra Selatan, ia optimistis Lotim bisa keluar sebagai juara. Keyakinan itu juga didasari program Desa Sakra Selatan yang dinilai cukup bagus dan langsung berdampak terhadap penurunan stunting. (par/r7)

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
konvergensi desa berkelakuan baik desa Sakra Selatan Lotim Stunting