LombokPost-Dinas Pertanian (Distan) Lombok Timur (Lotim) mendorong adanya transformasi pertanian konvensional menjadi pertanian berbasis presisi dan Smart Farming.
Hal ini untuk menghadapi berbagai tantangan saat ini seperti cuaca, alih fungsi lahan pertanian, hingga regenerasi petani di Lotim.
Kepala Distan Lotim Lalu Fathul Kasturi mengatakan, perubahan iklim saat ini sulit diprediksi sehingga para petani tidak bisa hanya bergantung pada pola pertanian konvensional.
Namun, sangat membutuhkan inovasi, teknologi, serta peningkatan kualitas dan kemampuan para petani.
Lahan pertanian juga disebut terus menyempit seiring pertambahan jumlah penduduk. Saat ini, kepemilikan lahan pertanian masing-masing petani sangat kecil. Sehingga perlindungan lahan pertanian produktif sangat penting dilakukan.
Baca Juga: Murni Swadaya Tanpa Proyek! Wali Kota Mohan Puji Inovasi Dinas Pertanian Sulap Lahan Kosong BPP
“Saat ini luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sekitar 37.345 hektare. Jika ini tidak dilindungi lambat laun akan hilang semuanya,” jelasnya.
Selain persoalan iklim dan lahan, regenerasi petani di Lotim juga menjadi tantangan. Mengingat sebagian besar petani di Lotim saat ini sudah tua. Untuk itu, dia mendorong lahirnya petani milenial yang tidak hanya mampu bertani, tetapi juga memiliki pola pikir modern dan paham teknologi.
Dia melihat, kurangnya minat anak muda dalam bertani dikarenakan adanya stigma bahwa bertani merupakan pekerjaan yang kurang menjanjikan.
Padahal, sektor pertanian memiliki prospek ekonomi yang sangat besar, terlebih pemerintah terus memberikan kepastian harga terhadap sejumlah komoditas strategis.
Baca Juga: Kemarau Panjang Jadi Alarm, DPR Desak Anggaran Pertanian 2027 Lebih Adaptif
“Stigma ini harus kita ubah terutama di kalangan anak-anak muda kita. Padahal pertanian saat ini cukup menjanjikan. Pertanian itu usaha yang sangat baik dan menguntungkan,” tegasnya.
Dia mendorong para generasi muda dapat meneruskan profesi orang tua mereka sebagai petani dengan menerapkan pertanian presisi dan Smart Farming.
Penggunaan teknologi dan mekanisasi pertanian akan membuat proses produksi pertanian lebih efektif dan efisien. Terlebih pada musim panen yang kerap membutuhkan tenaga kerja yang cukup tinggi dan mahalnya kos produksi.
“Dengan konsep smart farming ini membuat komoditas tertentu tetap bisa dibudidayakan meski berada di luar musim tanam normal. Misalnya tanaman cabai yang sering menjadi penyumbang inflasi ketika produksinya terganggu akibat kondisi cuaca,” bebernya.
Baca Juga: Teknologi Pertanian China Diuji Coba di Lotim, Semprot Satu Hektare, Drone Cuma Butuh 15 Menit
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga dalam pertanian adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Tidak hanya petani, tetapi juga para penyuluh pertanian dan kelembagaan kelompok tani.
“Teknologi secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya. Sehingga kami terus melakukan pelatihan, penguatan kelembagaan, serta membuka ruang kerja sama dengan perguruan tinggi,” tandasnya.
Sebelumnya, Bupati Lotim Harus Warisin menyampaikan, saat ini sektor pertanian dan peternakan menjadi salah satu fokus pemerintah pusat untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan. Lotim dinilai memiliki potensi besar di sektor pertanian, namun membutuhkan kreativitas untuk mengoptimalkannya.
Baca Juga: 35 Hektare Lahan Pertanian di Sumbawa Terancam Gagal Panen
“Untuk itu kami berharap agar para petani dapat meningkatkan produksinya, terutama produksi padi maupun jagung, dengan memanfaatkan teknologi pertanian dan menggunakan bibit yang lebih unggul,” katanya.
Untuk mencapai target peningkatan hasil produksi padi, peran penyuluh pertanian juga dinilai sangat penting dengan mengikuti perkembangan teknologi untuk diteruskan kepada para petani. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post