LombokPost-Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur (Lotim) mencatat 100 ekor sapi terindikasi terkena penyakit mulut dan kuku (PMK), dengan tiga ekor di antaranya mati.
Disnakeswan meminta peternak lebih aktif melaporkan gejala pada ternak dan melakukan vaksinasi secara berkala agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
“Para peternak ini sudah sering kita imbau, jika ada gejala pada ternak tolong secepatnya dilaporkan ke petugas kita, supaya ada tindakan langsung,” terang Kepala Disnakeswan Lotim Masyhur, Kamis (1/10).
Masyhur mengakui, saat ini sejumlah ternak ditemukan mengalami gejala demam tinggi dan mimisan yang diduga terkena PMK.
Kemunculan gejala ini disebut salah satunya disebabkan kondisi cuaca panas, sehingga membuat ternak sangat rentan terkena penyakit.
Baca Juga: Geger, Menlu Sugiono Dikabarkan Naik Jadi Menko PMK, Ini Penggantinya
Selain itu, hal ini juga dikarenakan banyaknya ternak yang belum tervaksinasi. Sebab, masih ada peternak yang tidak mau melakukan vaksinasi sapi ternak mereka dengan berbagai alasan.
“Ini yang sangat kita sesali masih ada peternak yang tidak mau divaksin ternaknya. Termasuk peternak juga kurang aktif melaporkan kondisi ternaknya. Padahal PMK ini tidak terlalu bermasalah sebenarnya, selama dia cepat penanganannya,” katanya.
Masyhur menyebutkan, berdasarkan informasi yang didapatkan, terdapat beberapa ekor sapi mati diduga karena demam tinggi.
Namun, sapi ternak itu belum bisa dipastikan apakah positif PMK atau tidak. Pihaknya telah mengambil sampel untuk dilakukan uji lab.
Baca Juga: Sulap Limbah Sapi Jadi Energi Gratis, Tim UNRAM Boyong Digester Komposit Portabel ke Banyu Urip
“Yang mati ini karena telat mendapatkan penanganan dari petugas. Dan belum divaksinasi. Makanya kami selalu bilang ke peternak kalau beli sapi dari luar itu tanyakan, apakah sudah divaksin atau tidak, kalau memang ragu, silakan vaksin ulang,” katanya.
Jatah vaksinasi Lotim tahun ini sebanyak 55 ribu dosis dan saat ini tersisa sebanyak 13 ribu dosis. Dia berharap peternak yang belum melakukan vaksinasi segera melapor agar mendapatkan vaksinasi.
Lebih jauh, Masyhur menyampaikan, sebagian besar sapi yang terindikasi terkena PMK ini merupakan sapi luar yang dibeli di pasar hewan.
Adapun terkait pembukaan pengiriman sapi Sumbawa, diakui tidak berdampak terhadap kemunculan virus PMK karena pengiriman sapi dari Sumbawa sudah ada SOP-nya.
Setiap sapi Sumbawa yang masuk ke Lotim harus dipotong dan sudah divaksinasi.
Baca Juga: Vaksinasi PMK di NTB Tidak Lagi Semasif Dulu
“Jadi bukan pengaruh dari dibukanya keran masuknya sapi Sumbawa, karena kalau itu sudah ada SOP-nya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Disnakeswan Lotim drh Hultatang menyampaikan, jumlah sapi yang terindikasi terkena PMK di Lotim sebanyak 100 ekor.
Sebagian besar sapi itu saat ini sudah berhasil disembuhkan. Namun, terdapat tiga ekor sapi yang mati.
“Ada tiga ekor yang mati setelah dikunjungi. Tiga ekor sapi yang mati ini tidak pernah divaksin sama sekali,” terang Hultatang.
Ia meminta kesadaran para peternak untuk melakukan vaksinasi berkala setiap enam bulan sekali.
Banyak peternak yang enggan melakukan vaksinasi karena adanya informasi negatif yang beredar di masyarakat terkait vaksinasi.
Baca Juga: Sapi Bergejala PMK Ditemukan di Sejumlah Kecamatan di Lotim
“Peternak harus cerdas, kalau mau sapinya sehat sepanjang tahun, maka harus divaksinasi,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post