Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Vaksinasi PMK di NTB Tidak Lagi Semasif Dulu

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost-Vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi di NTB tetap dilaksanakan. Namun pelaksanaannya tidak lagi semasif saat awal penanganan, karena pasokan vaksin maupun dukungan operasional yang diterima lebih terbatas. 

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhammad Riadi, Kamis (17/9). Saat ini, pemerintah pusat masih memberikan pasokan vaksin untuk NTB, pengirimannya setiap tiga bulan.

Advertisement

Adapun tambahan pasokan masih memungkinkan diperoleh bila persediaan yang diterima sudah habis. Juga jika pelaksanaan di lapangan menunjukkan perkembangan yang baik.

Inilah yang menjadi perbedaan dengan periode awal penanganan PMK, ketika vaksin dalam jumlah besar lebih banyak didistribusikan ke daerah.

Hingga pertengahan September, 230.250 dosis telah direalisasikan, dari total persediaan yang disalurkan 304.750 dosis. Keterbatasan biaya operasional, menjadi salah satu faktor yang membuat pelaksanaan vaksin PMK berjalan lebih lambat.

Advertisement

Ini turut memengaruhi kemampuan petugas menjangkau ternak. Kini, dukungan operasional yang lebih kecil membuat pergerakan di lapangan tidak secepat sebelumnya. 

Kondisinya jauh berbeda dengan masa awal penanganan PMK ketika biaya operasional mencapai Rp 25 ribu untuk setiap ternak yang mendapat vaksin. Sekarang petugas hanya diberikan Rp 8-10 ribu per vaksin.

Jumlah kasus kini juga menurun, meski penyakit tersebut masih ditemukan. Kasus yang muncul di Lombok Tengah pada awal September, misalnya, langsung ditindaklanjuti dengan pemberian vaksin.

Dengan kondisi tersebut, NTB belum dapat ditetapkan sebagai daerah bebas PMK. Penetapan status bebas tidak hanya bergantung pada cakupan ternak yang telah mendapat vaksin, tetapi juga hasil surveilans dan terbentuknya titer antibodi.

“Walaupun capaian vaksinasi 90 persen dari populasi selama tiga tahun berturut-turut, tapi kalau hasil surveilansnya masih ada yang terjangkit, NTB belum bebas PMK,” tegasnya.   

Advertisement
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sapi Bergejala PMK Ditemukan di Sejumlah Kecamatan di Lotim

Sapi Bergejala PMK Ditemukan di Sejumlah Kecamatan di Lotim

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur menemukan sekitar empat hingga lima ekor sapi yang diduga terjangkit PMK

Menatap Inovasi Peternakan Desa Jagaraga, Gen Z dan Milenial Menemukan Masa Depan di Kandang Sapi

Menatap Inovasi Peternakan Desa Jagaraga, Gen Z dan Milenial Menemukan Masa Depan di Kandang Sapi

Pemerintah Desa Jagaraga Kecamatan Kuripan terus mencari jalan keluar terbaik. Bantuan keuangan khusus Pemprov NTB menjadi angin segar.

Alami Saraf Kejepit Alasan Hotman Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus, Hari Ini Jalani Pengobatan di Singapura

Alami Saraf Kejepit Alasan Hotman Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus, Hari Ini Jalani Pengobatan di Singapura

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman mendesak Jampidsus baru, Kuntadi, untuk bergerak cepat menuntaskan kasus dugaan korupsi dan tindak pidana

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer