Tipu Muslihat Iblis dan Awal Ritual Persembahan Sesat
LombokPost - Setelah berhasil menanamkan ide pemujaan patung, iblis belum selesai. Ia tahu, untuk benar-benar menguasai manusia, ia harus masuk lebih dalam: ke dapur, ke lidah, ke rasa.
Di bait 15 hingga 20 Babad Lombok, kita melihat bagaimana pemujaan berubah menjadi ritual, dan ritual berubah menjadi penyesatan kolektif. Iblis mulai mengatur segalanya: mulai dari apa yang dimakan, apa yang dibakar, hingga apa yang dianggap suci.
Ia membisikkan: “Campurkan bunga-bunga, pencok wilis, urap lawar, jejeruk, guling babi dan anjing, arak api, brem tua…”
Semuanya disiapkan untuk satu tujuan: membuat manusia mengira mereka sedang menghormati leluhur, padahal mereka sedang mempersembahkan diri pada kebinasaan.
Yang lebih tragis, manusia lega.
Mereka merasa sudah tahu jalan.
Mereka duduk, menyembah, dan menyebut nama iblis sebagai tuhan mereka.
Sambil menangis, mereka memohon:
"Duh ini apa, bagaimana caraku menjaga diri?"
Ironi itu begitu dalam: manusia memohon kepada makhluk yang menyesatkannya.
Bait 18 menyimpulkan dengan pahit: semua anak keturunan Adam sudah ditipu. Laki-laki dan perempuan sama. Pikiran mereka sudah kabur. Mereka mengira itu cinta, padahal itu adalah kelicikan kuno yang diwariskan sejak zaman Adam. Kata si iblis, itu semua adalah “ajaran leluhur”.
Dan pada akhirnya, iblis sendiri tertawa senang.
Ia berkata: “Lah wong iki kabuhi gowa mami. Dadi rewangku bisuk.”
("Orang-orang ini akan jadi temanku di neraka nanti.")
Baca Juga: BABAD LOMBOK BAIT 1-4, Kisah Leluhur dalam Bait Pangkur Malam Jumat Wage
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Babad ini tidak sedang menyerang budaya, tidak juga menyalahkan tradisi. Ia sedang mengajarkan cara membedakan antara penghormatan dan penyimpangan.
Ketika makanan persembahan mulai mengandung sesuatu yang dilarang…
Ketika pemujaan diganti dengan persembahan fisik…
Ketika kesalehan dibungkus oleh simbol yang membutakan…
Saat itulah akal tertutup, hati dikuasai.
Dan yang paling mengerikan:
Manusia justru merasa damai dalam sesat.
Babad Lombok ingin mengajak kita sadar—bahwa tidak semua yang turun dari leluhur adalah petunjuk. Ada juga yang harus diurai ulang, ditimbang, dan ditinggalkan bila perlu.
Baca Juga: Lirik Lagu Awak Jaok dan Chord Gitar Lengkap, Lagu Daerah Sasak oleh Erni Ayuningsih
Tentang Naskah Ini
Narasi ini diolah dari bait 15–20 Babad Lombok versi 1994. Bagian ini memperlihatkan fase puncak penyesatan iblis terhadap umat manusia: dari makanan, persembahan, hingga persepsi tentang kebenaran. Diterjemahkan dengan pendekatan naratif agar bisa dipahami dan dirasakan oleh generasi sekarang.
Lampiran Teks Asli Babad Lombok (Bait 15–20)
Bait 15
Dicampur dengan bunga,
dengan pencok wilis,
urap lawar dan jejeruk,
bingkakak babi anjing,
guling bebek dan guling anjing,
airnya arak api,
hoso dan arak kanis.
Pangkur:
Winor lan kembang-kembang,
lawan pencok wilis,
hurab lawar lan jejeruk,
bingkakak celeng sona,
mwah guling bebek lawan guling hasu,
toyane harak raragang,
hoso lawan harak kanis.
Bait 16
Brem dan tuak tua,
sedia bersama tumbar itu,"
Dan semua yang mendengar
ujar si iblis laknat,
semua lega hatinya karena mendapat,
hukuman yang terang,
semua duduk bersap-sap.
Pangkur:
Brem lawan tuwak wayah,
den samapta lawan tutumbah neki,
Dan sakehing hing kang hanrungu,
hujar pun iblis la’nat,
samiya garjita manahira yen hantuk,
yayi ya ilmu yayah rena,
samiya hajajar halinggih.
Bait 17
Sambil menyembah semua,
kepada si laknatullah,
semua tunduk,
berucap sambil mohon ampun,
"Duh ini apa,
pesannya dan permintaannya,
bagaimana caraku,
memelihara diri pribadi."
Pangkur:
Sarwi hanungkemi pada,
mering pun lana tulah samiya ngundungi,
hature samiya melas ampun,
"Duh hiki paran mwah,
wawekse kalawan panjaluk nipun,
lahparan polah hing ngwang’,
marenah hawak pribadi."
Bait 18
Itulah sebabnya semua,
anak cucu Adam dahulu,
semua mengikuti,
ditipu oleh iblis laknat,
sudah sesat pikirannya
laki wanita,
disangkanya bukan tipu muslihat,
pesan si Adam dahulu.
Pangkur:
Pabanani pun sadaya,
hanak putu Nabi Adam mingguni,
kabeh pan samiya habikut,
kapus dening iblis la’nat,
pan wus kabuda manah hira histi jalu,
den sang keh dudu rencana,
waweakse Adam huni.
Bait 19
Senang hati si iblis laknat,
"Hai orang ini masuklah golonganku,
menjadi temanku nanti,
masuk ke bawah api neraka."
Gembira si iblis mengusap leher,
bersenandung mengusap muka,
karena orang sudah ikut semua.
Pangkur:
Bungah manah pun iblis la’nat,
"Lah wong hiki kabuhi gowa mami,
dadi rewang ing bisuk,
manjing kawa nong muka."
Yata pun belis hegar ngusaping gulu,
hangrumrum ngusap wadana,
ni wong hiki samiya nuti.
Bait 20
Kata si iblis laknat,
berbisik sambil merayu sukma,
"Duh dengarkan ucapanku,
pesan leluhurmu,
semaumu kau boleh lakukan,
makan babi dan anjing,
ular bangkai kau makan.
Pangkur:
Lingira pun iblis la’nat,
habibisik sarwi sira melas sasih,
"Duh rungunen hujar hingsun,
wawekas wayah hira,
sakarepe pan jenek den satuhuk,
hamangan celeng lan sona,
hulah wangke dera bukti.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin