Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

"Tabeq, Rinjani... Maaf Jika Kami Datang Terlalu Nyaring", Peringatan Mendalam dari Pemerhati Pariwisata NTB

Nurul Hidayati • Senin, 30 Juni 2025 | 17:50 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Gunung Rinjani, dengan segala keindahan dan kemegahannya, kini tengah dihadapkan pada tantangan besar. Bukan hanya soal pengelolaan, melainkan juga soal hilangnya rasa hormat dan kesadaran spiritual dari sebagian pendaki.

Hal ini diungkapkan secara mendalam oleh pemerhati pariwisata NTB, Anas Amrullah, yang mengingatkan kembali pentingnya sapaan adat "Tabeq" sebagai simbol penghormatan terhadap gunung sakral ini.

Gunung Rinjani ini Lebih dari Sekadar Objek Wisata, Sebuah Entitas Hidup yang Sakral

Menurut Anas Amrullah, kalimat "Tabeq... tabeq, Rinjani" seharusnya tidak pernah dilupakan oleh siapa pun yang melangkahkan kaki menuju gunung ini.

Ia bukan hanya sapaan adat, melainkan pengingat bahwa tanah yang dipijak adalah ruang hidup yang telah lama dijaga dan dihormati.

"Sayangnya, cara datang itu sering terlalu nyaring. Tanpa permisi, tanpa paham tata ruang, tanpa tahu bahwa setiap pelawangan menyimpan cerita dan setiap jejak kaki mengandung konsekuensi," ujarnya.

Anas menyoroti fenomena di mana banyak pendaki datang dengan niat baik untuk menikmati alam, berfoto, atau mencari ketenangan, namun abai terhadap nilai-nilai sakral Rinjani.

Ketika tragedi atau kecelakaan terjadi, lanjut Anas, banyak pihak yang langsung menyalahkan.

Rinjani dianggap tidak ramah, pemerintah gagal, bahkan tim penyelamat diserang.

Padahal, Rinjani bukanlah sekadar fasilitas wisata dengan jaminan keselamatan, melainkan sebuah entitas hidup yang selama ratusan tahun dijaga oleh leluhur Sasak dengan mantra, ritual, dan rasa hormat yang tak bisa digantikan oleh tiket masuk.

Pengingat Lembut dari Sang Gunung, Pentingnya Penghormatan dan Kesadaran Diri

Anas Amrullah mengutip seorang tokoh adat yang mengatakan, "Rinjani itu seperti orang tua. Tidak semua pintu boleh dimasuki sembarangan. Ada jalur-jalur yang hanya bisa dilewati jika sudah 'diminta izin' secara spiritual. Dan jika dilanggar, bukan hukuman yang datang tapi pengingat," tulisnya.

Menurutnya, berbagai insiden yang terjadi di Rinjani belakangan ini mungkin adalah "pengingat yang lembut, meski menyakitkan."

Oleh karena itu, ia menyarankan agar setiap pendakian dimulai dengan diam sejenak di pelawangan, lalu menyampaikan sapaan "Tabeq, tabeq..." sebagai bentuk penghormatan sejati.

Photo
Photo

Bukan hanya pada gunungnya, tetapi pada seluruh semesta yang menjaganya: tanah, air, angin, batu, pohon, dan arwah leluhur.

Anas berharap, sudah saatnya memandang gunung bukan hanya sebagai latar belakang foto, melainkan sebagai cermin yang menunjukkan siapa yang datang dengan hati, dan siapa yang hanya datang membawa gawai.

"Dan jika suatu hari Rinjani bicara lagi dengan suara besar, seperti yang pernah terjadi ratusan tahun silam, semoga saat itu tidak ada lagi yang lupa berkata 'tabeq'," pungkas Anas.

Ia menekankan bahwa sesungguhnya, bukan alam yang marah, melainkan manusia yang terlalu sering lupa cara bersikap.

Peringatan ini menjadi cambuk bagi semua pihak untuk kembali menanamkan nilai-nilai penghormatan dan kesadaran spiritual dalam setiap interaksi dengan alam, khususnya Gunung Rinjani.

Editor : Siti Aeny Maryam
#rinjani #penghormatan #sakral #gunung #Adat