LombokPost – Keris kini tak lagi sekadar pusaka warisan, tapi naik kelas jadi simbol gaya hidup eksklusif. Habibi, anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia, menyebut keris sudah menempati ruang yang sama dengan barang mewah lain.
“Kalau warangkanya dari gading atau gagangnya dihiasi emas, itu bukan barang murah. Status sosial langsung terbaca,” kata Habibi, Jumat (22/8).
Nilai keris bisa fantastis. Ia pernah menyaksikan transaksi hingga Rp 350 juta. Bahkan sekadar warangka dari gading dihargai Rp 30 juta, setara iPhone terbaru. “Hobi ini memang mahal, tapi di situlah status sosialnya,” ujarnya.
Bagi Habibi, keris adalah aset sekaligus investasi. Nilainya ditentukan bahan, sejarah, hingga kelangkaan. “Ada yang seharga Rp 1 juta, ada juga yang setara rumah,” tambahnya.
Perawatan pun tak murah. Cuci keris bisa Rp 300 ribu, lebih mahal dari cuci mobil. Jual-belinya juga kerap berlangsung diam-diam, bahkan ada yang menukar keris dengan mobil.
Ia menilai hobi ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, tapi juga menghidupi banyak perajin warangka dan gagang. Bahkan kini keris kian populer lewat pameran hingga media sosial.
“Keris itu gaya hidup, tapi bukan glamor. Ia berwibawa dan punya nilai sejarah, budaya, hingga spiritual,” tutup Habibi.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin