LombokPost - Toprak Razgatlioglu akhirnya resmi bergabung ke MotoGP! Juara dunia WorldSBK 2021 asal Turki itu akan memulai debutnya bersama Pramac Yamaha pada musim 2026.
Tapi meski kabar ini disambut euforia penggemar balap, banyak pengamat mulai mengangkat satu kekhawatiran serius: bisakah Toprak menaklukkan ban Michelin di MotoGP?
Ya, Toprak Razgatlioglu yang selama ini tampil luar biasa di WorldSBK dengan ban Pirelli, bakal menghadapi tantangan besar ketika beralih ke MotoGP 2026.
Ban Michelin dikenal sangat berbeda karakteristiknya dibanding ban superbike, dan inilah yang bisa menjadi "mimpi buruk" seperti yang pernah dialami Valentino Rossi saat pindah ke Ducati.
Setelah beberapa kali dikaitkan dengan wildcard MotoGP, akhirnya Toprak Razgatlioglu resmi teken kontrak dua tahun dengan tim satelit Pramac Yamaha.
Kontrak ini akan aktif mulai musim 2026, setelah kontraknya dengan BMW Motorrad di WorldSBK berakhir pada 2025.
Yamaha, melalui manajer proyek Paolo Pavesio, menyebut perekrutan Toprak sebagai strategi jangka panjang yang bertujuan memperluas talenta non-Eropa di MotoGP.
Tapi tantangan besar menanti: ban Michelin bukan Pirelli, dan inilah masalahnya.
Baca Juga: Marc Marquez Ungkap Rival Terkuat Bukan Pecco! Pimpin Klasemen MotoGP 2025 Usai Menang di Aragon
Ban Michelin: Tantangan Utama Toprak di MotoGP
Sejak kembali ke MotoGP pada 2016, ban Michelin punya reputasi unik:
Grip kuat di awal tapi cepat habis jika dipaksa terlalu agresif.
Stabil di tikungan cepat, tapi mudah overheat jika sering slide.
Ban depan sangat sensitif terhadap input pengereman ekstrem.
Dan gaya membalap Toprak Razgatlioglu? Pengereman ekstrem, sliding keras saat masuk tikungan, dan agresif di corner entry. Sebuah kombinasi yang mungkin bikin ban Michelin “menjerit.”
Simon Crafar, eks pembalap dan komentator MotoGP, menegaskan:
"Toprak harus belajar memainkan throttle dan mengelola ban depan dengan lembut. Jika tidak, dia akan cepat kehabisan grip."
Toprak tak cuma harus menyesuaikan diri dengan ban Michelin, tapi juga akan bersaing dengan para raja MotoGP seperti:
Marc Marquez, yang punya adaptasi luar biasa
Pecco Bagnaia, raja konsistensi dan presisi
Fabio Quartararo, yang sudah “menyatu” dengan karakter ban Michelin
Di tengah kerasnya persaingan ini, Toprak Razgatlioglu wajib menemukan gaya baru yang lebih halus dan efisien, bukan hanya mengandalkan keberanian late braking-nya yang terkenal.
Untuk bertahan di MotoGP, Toprak butuh:
Kolaborasi erat dengan insinyur Michelin
Analisis data telemetry pembalap Yamaha lainnya
Pendekatan race pace, bukan hanya time attack
Latihan dengan motor prototipe dan pengumpulan data sejak awal 2025 akan menjadi penentu keberhasilan.
Yamaha disebut akan memberikan dukungan teknis maksimal lewat Pramac untuk membantu Toprak beradaptasi secara bertahap. (***)
Editor : Alfian Yusni