LombokPost - KONI Mataram kembali mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet Pelatda Sangkareang. Setelah sebelumnya melakukan serangkaian tes kesehatan, kini KONI Mataram mengirim satu ahli gizi untuk mengikuti Sport Nutrition Training Level 1 yang digelar di Jogjakarta.
Ketua KONI Mataram Firadz Pariska mengatakan ahli gizi menjadi bagian penting dari konsep sport science yang sekarang digarap serius KONI Mataram. Ahli gizi berperan sebagai garda terdepan dalam menangani berbagai persoalan gizi atlet. Mulai dari ketidakseimbangan nutrisi, hidrasi, hingga kebutuhan menu yang berbeda di setiap cabang olahraga.
”Skill teknis atlet itu penting, tapi tanpa nutrisi yang baik mereka tidak akan pernah mencapai performa terbaiknya,” uja Firadz.
Firadz menjelaskan dengan pemenuhan nutrisi atlet yang baik bisa meningkatkan prestasi atlet Mataram. Di semua level tidak hanya Porprov tapi juga bisa berkontribusi dalam prestasi NTB di kancah nasional maupun internasional.
”Tanpa nutrisi yang baik atlet tidak akan bisa mencapai performa terbaiknya. Semoga ahli gizi kita bisa mendapatkan ilmu yang berguna dan bisa diaplikasikan kepada atlet-atlet di Mataram,” katanya.
Menurut Firadz, Ini bukan akhir tapi ini tahap awal. Sehingga nanti ilmu yang didapat bisa ditularkan kepada tim Satlak Pelatda Mataram untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi atlet prestasi.
Ahli gizi Satlak Pelatda Mataram Intan Prima Yanti menjadi satu-satunya peserta dari perwakilan KONI yang mengikuti pelatihan dan workshop yang diinisiasi Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA) bekerja sama dengan PKGM UGM.
Intan menjelaskan dari hasil tes Kesehatan atlet-atlet Mataram beberapa waktu lalu, ditemukan fakta bahwa 70 persen atlet memiliki kadar hemoglobin di bawah normal. Kondisi ini, menurutnya, berdampak langsung pada stamina dan performa saat latihan maupun bertanding.
”Selama ini menu makan atlet masih disamaratakan. Padahal kebutuhan nutrisi atletik berbeda dengan angkat besi, berbeda pula dengan taekwondo,” jelas Intan.
Dalam pendampingan mandiri sebelumnya, Intan sudah mencoba menerapkan penyesuaian menu pada beberapa cabang olahraga. Bahkan saat atlet turun bertanding di luar daerah, komunikasi dilakukan secara intens, terutama terkait pemilihan makanan dan kebutuhan energi sebelum pertandingan.
Contohnya pada cabor taekwondo, Intan memberikan rekomendasi produk-produk aman sesuai standar BPOM serta menyesuaikan kebutuhan gula untuk menjaga performa ketika sparring.
”Energi atlet itu datang dari apa yang mereka makan. Latihan itu penting, tapi menurut saya faktor gizi adalah penentu utama performa,” tegasnya.
Pelatihan berfokus pada hidrasi, gula darah, dan menu personal atlet. Pada workshop tersebut juga akan diberikan ilmu terkait pemeriksaan status hidrasi atlet, pengukuran kadar gula darah, penyusunan menu spesifik sesuai kondisi tubuh dan jenis cabor.
Selanjutnya, penyesuaian nutrisi berdasarkan periodisasi latihan, persiapan umum, khusus, prakompetisi, hingga kompetisi. Rangkaian pembelajaran ini akan menjadi dasar untuk memperbaiki pola konsumsi atlet Mataram secara menyeluruh.
Editor : Pujo Nugroho