Lombok Post- Portugal tanpa Ronaldo kembali menjadi ironi paling menarik dalam perjalanan sepak bola modern Eropa.
Dua kemenangan terbesar yang pernah dicetak Selecao das Quinas 9-0 atas Luksemburg dan 9-1 atas Armenia justru lahir di momen sang megabintang Cristiano Ronaldo absen dari lapangan.
Fenomena ini menghadirkan sorotan tajam sekaligus perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola dunia, benarkah Portugal lebih efektif ketika tidak diperkuat sang ikon?
Dalam laga melawan Luksemburg di kualifikasi Euro, Portugal tampil luar biasa dominan dan tak terbendung.
Tanpa Ronaldo, lini depan bergerak lebih cair dan agresif, menghasilkan sembilan gol tanpa balas. Ramos, Inácio, Jota, Bruno Fernandes, João Félix, dan Ricardo Horta menjadi aktor pesta tersebut.
Ironi ini semakin menarik perhatian publik karena absennya Ronaldo murni akibat skorsing, bukan keputusan taktis.
Namun justru di laga penuh tekanan itu, Mesin Gol Portugal tampil menakutkan.
Kemenangan 9-0 Portugal pun menjadi salah satu skor terbesar dalam sejarah tim nasional.
Beberapa tahun berikutnya, skenario serupa kembali terulang dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026. Menghadapi Armenia, Portugal tanpa Ronaldo lagi-lagi berubah menjadi mesin penghancur.
Hasil akhirnya bahkan lebih dramatis: 9-1. Bruno Fernandes dan João Neves masing-masing mencetak hat-trick, sementara nama-nama seperti Ramos, Conceição, dan Veiga melengkapi pesta yang sama briliannya dengan laga sebelumnya.
Absennya Ronaldo kembali karena skorsing, dan lagi-lagi, Portugal menghantam lawan tanpa kompromi.
Baca Juga: Zlatan: “Kalau Saya Pelatih Portugal, Saya Coret Ronaldo dari Skuad Piala Dunia 2026!”
Fenomena dua kemenangan sembilan gol ini memunculkan perdebatan mengenai dinamika permainan tim.
Banyak analisis menilai Portugal tampil lebih cair, lebih kolektif, dan lebih variatif saat tidak bergantung pada satu figur sentral.
Namun di sisi lain, para pendukung Ronaldo menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah bukti Portugal “lebih baik” tanpa sang legenda, melainkan refleksi kedalaman skuad dan kedisiplinan taktik yang telah lama dibangun.
Bagaimanapun, Ronaldo tetap menjadi ikon dan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Portugal.
Meski demikian, ironi itu tetap tak bisa diabaikan: dua kemenangan terbesar Portugal sepanjang sejarah modern dua laga dengan pesta gol Portugal paling brutal—terjadi ketika Cristiano Ronaldo tidak berada di atas lapangan.
Fakta ini menghadirkan narasi dramatis bahwa Selecao das Quinas tidak hanya bergantung pada satu megabintang, tapi telah berkembang menjadi tim dengan fondasi yang kuat dan teknik kolektif yang matang.
Di akhir perjalanan, fenomena Portugal tanpa Ronaldo ini bukan hanya soal hasil, tapi tentang bagaimana sebuah tim besar bergerak dinamis, mampu beradaptasi, dan bahkan menembus batas ketika ditinggalkan ikonnya.
Dua kemenangan 9-0 dan 9-1 itu menjadi simbol bahwa Portugal kini berada pada era yang lebih luas: era ketika kekuatan tim mengalahkan ketergantungan pada satu nama besar meskipun nama itu adalah Cristiano Ronaldo.
Baca Juga: Lagi, Ronaldo & Messi Selangkah Lagi Pecahkan Rekor Abadi
Editor : Kimda Farida