Laga puncak yang digelar di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, berlangsung dalam tensi tinggi sejak menit awal. Maroko tampil agresif, sementara Senegal bertahan disiplin dan menunggu celah.
Namun pertandingan tak hanya diwarnai duel sengit, melainkan juga keputusan wasit yang memicu kemarahan, protes pemain, hingga penundaan laga.
Menurut laporan moroccoworldnews.com, drama memuncak di masa injury time ketika wasit menghadiahkan penalti kepada Maroko usai pelanggaran Malick Diouf terhadap Brahim Díaz, keputusan yang dikukuhkan VAR setelah peninjauan panjang.
Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari para pemain Senegal yang sempat meninggalkan lapangan menuju lorong stadion atas instruksi pelatih Pape Thiaw.
Situasi baru mereda setelah kapten Senegal Sadio Mané turun tangan menenangkan rekan-rekannya.
Setelah penundaan sekitar 15 menit, pertandingan akhirnya dilanjutkan. Namun, momen emas Maroko justru berakhir tragis.
Eksekusi penalti Brahim Díaz berhasil digagalkan kiper Senegal Edouard Mendy, membuat stadion terdiam.
Sebelumnya, Senegal juga sempat dianulir gol kemenangan lewat Ismaila Sarr yang dinilai melakukan pelanggaran terhadap Achraf Hakimi, keputusan yang kembali memantik kontroversi, sebagaimana dilaporkan onefootball.com.
Kebuntuan akhirnya pecah di babak perpanjangan waktu. Gelandang Villarreal, Pape Gueye, melepaskan tembakan keras yang tak mampu dibendung kiper Maroko. Gol tersebut memastikan kemenangan Senegal dan mengunci gelar Piala Afrika kedua mereka setelah sukses pertama pada 2021.
Bagi Senegal, kemenangan ini menegaskan status mereka sebagai kekuatan baru sepak bola Afrika.
Sebaliknya, Maroko kembali harus menunda mimpi mengangkat trofi Piala Afrika di kandang sendiri. Gelar terakhir Atlas Lions masih bertahan sejak 1976, dan final kali ini menambah daftar luka panjang mereka di ajang kontinental.
Final Piala Afrika 2025 pun dikenang sebagai salah satu laga paling panas, kacau, dan penuh emosi dalam sejarah turnamen.
Editor : Marthadi