“Saya Orang Jerman saat Menang, tapi Imigran saat Kalah” – Luka Mesut Özil
Ivan Mardiansyah• Rabu, 21 Januari 2026 | 01:10 WIB
Mesut Özil mengakhiri karier di Timnas Jerman usai Piala Dunia 2018, menyoroti rasisme dan identitas lewat pernyataan ikoniknya.
Lombok Post — Satu kalimat dari Mesut Özil terus menggema dan mengubah cara dunia memandang sepak bola Jerman, identitas, dan rasa memiliki. “Saya orang Jerman ketika kita menang, tetapi saya seorang imigran ketika kita kalah.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kekecewaan, melainkan ringkasan luka panjang yang akhirnya membuat Mesut Özil mengambil keputusan besar: mengakhiri karier internasionalnya bersama Timnas Jerman.
Legenda sepak bola Jerman berdarah Turki itu menutup lembaran Die Mannschaft dengan sangat berat hati. Keputusan tersebut datang setelah serangkaian peristiwa menyakitkan yang memuncak pada Piala Dunia 2018 Rusia.
Saat Jerman tersingkir di fase grup usai kalah dari Meksiko dan Korea Selatan, sorotan tajam mengarah pada Özil. Ia menjadi sasaran kritik, kebencian, dan tudingan, yang menurutnya melampaui batas kritik olahraga dan berubah menjadi serangan bernuansa rasis.
Kontroversi berawal dari foto Mesut Özil bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, yang memicu perdebatan politik di Jerman. Namun setelah kegagalan di Piala Dunia 2018, Özil merasa dirinya dijadikan kambing hitam.
Dalam pernyataan panjangnya, Özil menegaskan bahwa selama bertahun-tahun ia selalu dianggap simbol keberhasilan integrasi ketika Timnas Jerman berjaya, tetapi berubah status menjadi “imigran” saat tim kalah.
“Dengan berat hati dan setelah banyak pertimbangan, saya tidak akan lagi bermain untuk tim nasional Jerman selama saya merasakan rasisme dan kurangnya rasa hormat,” tulis Mesut Özil kala itu.
Baginya, mengenakan seragam nasional harus dibarengi dengan penghargaan yang setara, tanpa memandang latar belakang etnis atau darah keturunan.
Keputusan Mesut Özil meninggalkan Timnas Jerman mengguncang sepak bola Eropa.
Ia adalah bagian penting dari generasi emas Jerman, termasuk saat menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil.
Namun lebih dari sekadar prestasi, sikap Özil membuka diskusi luas tentang rasisme, identitas ganda, dan standar ganda dalam sepak bola modern Jerman.
Hingga hari ini, nama Mesut Özil tetap dikenang bukan hanya karena visi, assist, dan gelar juara dunia, tetapi juga karena keberaniannya bersuara.
Kalimat “Saya orang Jerman saat menang, tapi imigran saat kalah” menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi, sekaligus pengingat bahwa sepak bola tak pernah sepenuhnya terlepas dari persoalan sosial.
Warisan Mesut Özil bagi Timnas Jerman pun melampaui lapangan hijau—ia mengubah percakapan, dan dalam banyak hal, mengubah sejarah.