Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mbappé Jadi Masalah di Dua Klub? Luis Enrique Melawan, Xabi Alonso Memilih Diam

Ivan Mardiansyah • Kamis, 22 Januari 2026 | 03:00 WIB

Luis Enrique berani menyebut PSG lebih baik tanpa Mbappé. Kisah kekuasaan pemain, keberanian pelatih, dan perubahan identitas tim.
Luis Enrique berani menyebut PSG lebih baik tanpa Mbappé. Kisah kekuasaan pemain, keberanian pelatih, dan perubahan identitas tim.

Lombok Post — Nama Kylian Mbappé kembali berada di pusat perdebatan besar sepak bola Eropa. Kali ini bukan soal gol, kecepatan, atau status megabintang, melainkan tentang kekuasaan pemain, keseimbangan tim, dan keberanian pelatih dalam menjaga struktur kolektif. Di balik sorotan itu, dua nama pelatih besar muncul dengan pendekatan yang sangat kontras: Luis Enrique dan Xabi Alonso.

Di Paris Saint-Germain, situasi Mbappé sempat mencapai titik krusial. Dalam sebuah pertemuan empat mata, Luis Enrique dikabarkan berbicara langsung, lantang, dan tanpa kompromi kepada Mbappé. Pesannya jelas: satu pemain dengan kekuasaan terlalu besar justru bisa menjadi masalah bagi struktur tim. Keberanian semacam ini jarang terjadi di klub sebesar PSG, terlebih ketika berhadapan dengan ikon utama klub.

Luis Enrique tahu betul risikonya. Namun ia tetap memilih jalan tersebut. Setelah kepergian Mbappé dari PSG, sang pelatih mengungkapkan keyakinannya secara terbuka. “Saya pikir saya sangat berani musim lalu ketika saya mengatakan bahwa kami akan memiliki tim yang lebih baik tanpa Mbappé. Saya masih berpikir kami lebih baik, statistiknya ada di sana. Saya lebih suka memiliki empat pemain yang masing-masing mencetak 12 gol daripada satu pemain yang mencetak 40 gol,” ujar Luis Enrique.

Baca Juga: Terbukti Sejak Awal, Luis Enrique Tolak Chelsea karena Kekacauan Era Clearlake

Pernyataan itu bukan sekadar filosofi sepak bola, melainkan deklarasi kekuasaan pelatih. PSG berhenti menjadi tim yang bergantung pada satu figur dan mulai bergerak sebagai kolektif. Tanpa Mbappé, PSG justru menemukan identitas yang lebih seimbang, disiplin, dan efektif. Sebuah tonggak penting yang mengubah arah klub di panggung Eropa.

Di sisi lain, pendekatan berbeda terlihat dari Xabi Alonso. Jika Luis Enrique memilih melawan secara terbuka, Alonso justru dikenal memilih pergi tanpa banyak suara ketika keseimbangan tim dan ruang otoritas pelatih mulai terancam. Kontras ini memperkuat narasi bahwa Mbappé bukan sekadar pemain bintang, melainkan figur yang memaksa klub dan pelatih menentukan sikap: melawan, menyesuaikan, atau menyingkir.

Kini, diskusi tentang Mbappé dan dinamika kekuasaan di tim semakin relevan. Apakah ia korban sistem, atau justru pusat masalah struktural? Jawabannya mungkin berbeda di setiap klub. Namun satu hal jelas, kisah Mbappé bersama PSG telah menjadi studi besar sepak bola modern: tentang batas pengaruh pemain, keberanian pelatih, dan harga yang harus dibayar demi keseimbangan tim.

Baca Juga: PSG Siapkan Kontrak “Seumur Hidup” untuk Luis Enrique, Langkah Belum Pernah Terjadi

Editor : Redaksi Lombok Post
#Xabi Alonso dipecat Real Madrid #Luis Enrique #xabi alonso #kylian mbappe #ruang ganti real madrid #Xabi Alonso dipecat #Paris Sain-Germain #real madrid #psg