Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Enam Pemain Singa Atlas Lahir dan Besar di Prancis: Ingat, Ingatlah Casablanca 1 April 1937

Redaksi • Kamis, 9 Juli 2026 | 11:30 WIB
Pertandingan Piala Dunia 2026 PRANCIS VS MAROKO.
Pertandingan Piala Dunia 2026 PRANCIS VS MAROKO.

LombokPost - Prancis menarasikan laga di Casablanca itu sebagai petrie atau fatherland alias tanah air melawan “anak-anak Maroko yang butuh bimbingan.”

Sebuah koran prokolonialis bahkan menyebut para pemain tim tuan rumah sebagai “anak-anak sekolah yang tunduk.”

Pada 1937 itu, Maroko masih jauh dari kata merdeka, masih di bawah penjajahan Prancis yang mendirikan pemerintahan protektorat di Negeri Maghribi tersebut sejak 1912.

Baca Juga: Lionel Messi Dikepung Mbappe dan Haaland di Bursa Top Skor Piala Dunia 2026

Seperti dikutip dari tulisan sejarawan Catherine Pipps di New Lines Magazine, Prancis sebelumnya sudah tiga kali mengirim tim ke Maroko dan selalu menjadi pemenang.

Kemenangan-kemenangan itu seolah semakin menegaskan hegemoni Eropa kulit putih atas warga negeri jajahan, narasi yang berusaha terus ditanamkan Prancis di Maroko. Tapi, tidak pada 1 April 1937 di Casablanca itu.

Di kota terbesar di Maroko tersebut, para pemain tuan rumah, yang ditempa di liga setempat yang mulai diputar pada 1916, tampil cepat dan trengginas menaklukkan Prancis B, wakil negeri penjajah, 4-2.

Baca Juga: Sebut Ego Cristiano Ronaldo Sandera Timnas Portugal, Zlatan Ibrahimovic: Mustahil Juara Piala Dunia 2026!

Satu abad dan satu dekade kemudian, Prancis akan kembali berduel dengan Maroko, kali ini di perempat final Piala Dunia 2026 di Gillette Stadium, Foxborough, Amerika Serikat, dini hari nanti WIB (10/7) pukul 03.00. Ini merupakan ulangan empat tahun sebelumnya ketika keduanya bertarung di semifinal ajang yang sama yang dimenangi Prancis.

“Kami bukan lagi tim kejutan sekarang dan itu membanggakan,” kata pelatih Maroko Mohamed Ouahbi setelah tim asuhannya menundukkan Kanada 3-0 di 16 besar, seperti dikutip Al Jazeera.

Pendekatan pascakolonialisme tentu tak bisa diterapkan secara hitam putih dini hari nanti WIB: penjajah melawan bekas jajahan. Ada proses “tungkar tangkap” antarkeduanya yang terus berlangsung sampai kini.

Baca Juga: Dua Striker AC Milan Ini Sama-sama Alami Nasib Tak Mengenakkan di Piala Dunia

Enam pemain Singa Atlas lahir dan besar di Prancis, Ayyoub Bouaddi salah satunya. Mayoritas penggawa Les Bleus juga merupakan keturunan Afrika, Ousmane Dembele di antaranya. Klub-klub Negeri Anggur pun banyak menemukan bakat dari para keturunan Maroko di Prancis maupun di Maroko.

Penafsiran Ulang

Prancis versus Maroko juga menjadi pengingat bahwa makna “tanah air” tak luput dari penafsiran ulang terus menerus. Kalau tidak, sulit rasanya memahami mengapa Bouaddi memilih membela Singa Atlas sebulan sebelum Piala Dunia 2026. Padahal, tak hanya lahir dan besar di Prancis, negeri yang lebih glamor secara nama dan prestasi di lapangan hijau, gelandang 18 tahun itu juga sudah membela Les Bleus kelompok umur sejak U-16 hingga U-21.

Ada “panggilan” yang tak mudah dijelaskan, sebagaimana mungkin yang dialami juga oleh Rayan Cherki. Ada darah Aljazair dan Italia di dalam tubuhnya, tapi demikian patriotiknya dia membela juara dunia dua kali itu.

“Kami ingatkan, Prancis tak cuma bisa bermain sepak bola. Kalau ada yang menantang berperang, kami juga siap,” katanya seusai kemenangan atas Paraguay di babak 16 besar.

Tak perlu ditanyakan bagaimana kesiapan Bouaddi untuk juga berperang membela Maroko. Dia sudah membuktikannya sejak fase grup. Dan, jika masih butuh tambahan suntikan motivasi, dia dan rekan-rekan setim tinggal mengingat apa yang terjadi di Casablanca pada 1 April 1937. (ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#pemain #maroko #prancis #piala dunia #perempat final