Direktur Program Yayasan Pasirputih KLU Muhammad Sibawaihi menuturkan, pihaknya sudah mencari beberapa lokasi di KLU yang pas. Termasuk juga gedung milik Pemerintah KLU. Hanya saja, belum ditemukan lokasi yang sesuai dengan konsep white cube yang diusung.
"Kami mencoba melihat aula Masjid Besar Pemenang. Setelah survei kami merasa ini sangat pas," ujarnya, Sabtu (11/12).
Selain terawat, masjid tersebut bisa diberikan sentuhan ulang sesuai konsep yang diusung. Akhirnya rencana mereka itu pun dikonsultasikan dengan pihak pengurus masjid. Terutama Pimpinan Yayasan Masjid Besar Pemenang, Mukhsin Mukhtar.
"Setelah kami jelaskan tujuan, model, landasan kegiatan, beliau sangat tertarik dan bahkan mendukung," sambungnya.
Langkah awal dimulai dengan pergelaran pameran Baledata. Baledata ini berisikan arsip sejarah budaya KLU. Kegiatan ini mengandung unsur pendidikan yang penting untuk generasi muda.
"Pihak Yayasan masjid juga ternyata memiliki mimpi untuk mengelola Arsip Masjid dan Perpustakaan Masjid," bebernya.
Pihak yayasan masjid ingin agar Masjid Jami' Nurul Hikmah bisa menjadi pusat belajar warga, bukan hanya beribadah saja. Hal ini yang melandasi pihak masjid berkolaborasi dengan Pasirputih kedepannya.
"Hal ini penting untuk diangkat untuk menumbuhkan sikap toleransi beragama," kata pria yang disapa Siba itu.
Pemilihan masjid juga menjadi penegasan Pasirputih, melalui program Baledata fokus pada pendidikan dan pengetahuan. Menerabas batas agama dan ras.
Disamping itu, Kecamatan Pemenang memiliki sejarah keberagaman yang kuat. Sikap tenggangrasa dan saling menghormati antaragama sudah terjalin sejak lama.
"Sehingga tidak aneh jika umat diluar Agama Islam datang ke masjid. Apalagi ini konteksnya pendidikan," jelasnya.
"Masjid Jami' Nurul Hikmah ini salah satu bukti sikap itu. Didirikan oleh tiga agama, Islam, Hindu dan Buddha," imbuhnya.
Sebagai pusat literasi, Siba menambahkan, aula masjid itu menampilkan medium pengarsipan tradisional hingga kontemporer.
Seperti Lontar Jatiswara yang berisi penyebaran islam. Lontar ini milik Raden Sua Gede seorang budayawan. Ada juga karya lukis Masjid Besar Bayan karya Lalu Syaukani, Arsip Rudat Panca Pesona, Komik Cerita Rakyat Lombok Utara karya Haidil Makbul, karya fotografi Usman Harund tentang Cupak Gurantang, Karya Bonga Karya Harvia Hayati tentang pilosofi tenun.
"Hingga berbagai medium penyimpanan digital dan pesebaran arsip Pasirputih," pungkasnya. (fer/r9) Editor : Galih Mps