TANJUNG-TP PKK NTB melakukan gerakan gotong royong dapur stunting dan pelatihan pengolahan makanan berbahan telur di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Sabtu (1/7). Hal ini menjadi salah satu upaya percepatan penurunan angka stunting di NTB, khususnya di Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Kepala Desa Senaru Raden Akria Buana mengapresiasi gerakan tersebut. Dirinya berjanji turut berupaya maksimal menurunkan angka stunting hingga menjadi 14 persen sesuai target nasional 2024 mendatang. “Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak, sebab bagaimana pun stunting bukan merupakan persoalan desa saja, melainkan nasional,” ujarnya.
Camat Bayan Kariadi mengajak warga untuk selalu hidup sehat dan menjaga asupan makanan, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Salah satunya dengan mengkonsumsi dua butir telur per hari. “Harapan kita agar anak-anak yang ada di KLU, khususnya Kecamatan Bayan dapat tumbuh cerdas dan pertumbuhannya tidak terlambat,” terangnya.
Pada 2020 lalu, kasus stunting di KLU mencapai 34 persen. Persentase ini turun menjadi 29 persen pada 2022 lalu. Tahun ini juga turun menjadi 19,49 persen.
Perwakilan TP PKK NTB Hj Hartinah mengatakan, pihaknya ikut berperan dalam pencegahan dan penurunan stunting. Anak-anak yang mengalami stunting yakni kondisi balita yang lebih pendek dari standar tinggi badan seumurnya. “Hampir 9 juta atau lebih dari sepertiga balita di Indonesia mengalami stunting,” bebernya.
Menurutnya, penyebab stunting dikarenakan kurang gizi pada saat ibu hamil dan anak, serta kurangnya pengetahuan ibu sebelum dan setelah melahirkan. Disamping itu, ibu hamil dan anak tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. “Kurangnya akses air bersih dan sanitasi atau kebersihan lingkungan, serta kurang pengetahuan tentang makanan bergizi yang berasal dari sumber daya lokal,” jelasnya.
Gejala stunting pada anak, menurut Hartinah yakni ukuran panjang atau tinggi badannya lebih pendek di bandingkan dengan standar. Kemudian pertumbuhannya melambat, dan kemampuan untuk fokus memori pembelajarnnya sangat rendah, serta pubertas melambat.
Pihaknya di TP PKK melakukan sejumlah upaya untuk pencegahan stunting. Di antaranya melakukan koordinasi lintas sektor, kerja sama pihak terkait, pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan bahan pangan lokal untuk pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, anak balita. “Kami juga menggerakkan kader kelompok dasawisma melalui kunjungan rumah dan membantu tenaga kesehatan dengan penyuluhan tentang kesehatan ibu dan anak,” pungkasnya.
Gerakan gotong royong dapur stunting dan pelatihan pengolahan berbahan telur di Desa Senaru Kecamatan Bayan diikuti sekitar 80 peserta. Dalam gerakan ini, TP PKK NTB juga membagikan sejumlah telur pada warga yang hadir. (fer/r9)
Editor : Galih Mps