Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terbengkalai Empat Hari, Sampah Gili Air Dikeluhkan Wisatawan

Galih Mps • Selasa, 4 Juli 2023 | 18:30 WIB
SAMPAH: Seorang pemulung mengais sampah di TPA Kebon Kongok, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. Pengelolaan sampah se- NTB tahun ini sudah ditangani langsung Pemprov NTB.
SAMPAH: Seorang pemulung mengais sampah di TPA Kebon Kongok, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. Pengelolaan sampah se- NTB tahun ini sudah ditangani langsung Pemprov NTB.
TANJUNG-Sampah di kawasan wisata Gili Air menumpu hingga puluhan ton selama empat hari. Hal ini dikeluhkan wisatawan sekaligus mendapatkan sorotan dari DPRD KLU. “Menurut saya citra pariwisata yang mendunia akan tercoreng dengan keberadaan sampah di dermaga Gili Air itu, apalagi kalau berulang-ulang,” ujar Wakil Ketua Komisi II DPRD KLU Hakamah, kSenin (3/7).

Hakamah meminta agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menambah petugas pengangkutan sampah. Agar mereka dapat bekerja secara bergantian dan maksimal sehingga tidak ada lagi penumpukan sampah. “Kapal tongkang kecil pengangkut sampah mesinnya rusak, makanya di dermaga itu terjadi penumpukan” sambungnya.

Dirinya sempat turun melakukan sidak ke Gili Air beberapa hari lalu. Sebab sejak 28 Juni lalu, sampah di sana kabarnya belum kunjung terangkut. “Ini sangat kita sesalkan sekali,” katanya.

Pengelolaan sampah di gili dilakukan Gili Care. Mereka mengangkut sampah-sampah dari hotel, villa, hingga rumah warga ke dermaga. Sedangkan dari dermaga ke TPA, diangkut tim BLUD Persampahan. “Nah yang tidak mengangkut ini adalah teman-teman BLUD Persampahan sehingga terjadi penumpukan di sana,” bebernya.

Dirinya berharap hal ini tidak terjadi lagi. Cara kerja di BLUD Persampahan juga harus menggunakan sistem rolling, sehingga bisa kerja penuh setiap harinya. “Karena jumlahnya mereka itu 18 orang dan gaji mereka hanya Rp 1 juta sebulan, sedikit gaji mereka juga,” terangnya.

Sistem kerja untuk Gili Tramena dinilai politisi Gerindra ini harus berbeda dibandingkan di daratan. Sebagai daerah pariwisata, tentunya produksi sampah terus berjalan dan harus ada pengangkutan setiap harinya. “Saya sudah hubungi pak sekda dan kadis DLH kaitannya persoalan ini,” ucapnya.

Dirinya juga bahkan meminta Sekda KLU untuk melakukan evaluasi pada BLUD Persampahan ini. Jika tidak becus bekerja, Hakamah meminta agar digantikan saja dengan yang baru. “Daerah wisata ini, tidak boleh main-main, mau lebaran atau apa kek di sana harus tetap standby, tidak boleh diinapkan sampah,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, Kepala DLH KLU Rusdianto membenarkan adanya penumpukan sampah di Gili Air tersebut. Penumpukan terjadi lantaran petugas di sana sedang libur.

Pihak UPTD diduga lupa dan kurang mengantisipasi libur panjang. Selain itu, mesin kapal tongkang mengalami kerusakan dan terjadi keretakan pada badan kapal tersebut. “Kami sudah turun melakukan pengangkutan, mudahan cuaca mendukung dan hari ini bisa di selesaikan pengangkutannya,” ujarnya.

Penumpukan hanya terjadi di Gili Air. Sedangkan dua gili lainnya, sampahnya sudah tertangani. Kapal pengangkut sampah mengalami kerusakan akibat benturan yang disebabkan ombak. Hal itu terjadi pada saat kapal diparkir di laut. “Karena besar ombak  bergeser dia, sehingga saling tabrak makanya rusak, jadi bukan tabrakan tapi karena gelombang,” jelasnya.

Kerusakan kapal ini diakuinya berpengaruh pada aktivitas pengangkutan sampah. Sebab itu, petugas harus bekerja ekstra untuk menyelesaikannya. Sebab dari biasanya satu kali pengangkutan, kini menjadi dua hingga tiga kali pengangkutan. “Dua kali angkut saja mereka ini pulangnya maghrib dia , karena lamanya turun dan naikan sampah itu,” bebernya.

“Volume sampah yang belum diangkut sampai hari ini kisaran puluhan ton,” pungkasnya. (fer/r9) Editor : Galih Mps
#KLU