TANJUNG-Fenomena abrasi di kawasan Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) semakin mengkhawatirkan. Untuk tahap awal, penanganan abrasi akan dilakukan di Gili Trawangan. ”Segera dilakukan proses pembangunan konstruksinya,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, Sabtu (16/7).
Gili Trawangan dipilih lantaran aktivitas di pulau tersebut lebih tinggi dibandingkan dua gili lainnya. ”Untuk Gili Meno, kemungkinan akan masuk di tahap kedua nantinya,” sambungnya.
Penanganan abrasi di Gili Trawangan tersebut nantinya akan ditangani langsung oleh Badan Wilayah Sungai (BWS). Tentunya berdasarkan rekomendasi Kemenko Marves yang sudah turun ke lokasi abrasi di pulau tersebut.
Muslim berharap Pemdes Gili Indah, kepala dusun, dan jajaran lainnya menghimpun kearifan sosial untuk menanggulangi persoalan abrasi ini. Yakni merancang tata ruang terkait pemanfaatan di Gili Tramena. Terutama di Gili Meno dan Air sebelum berkembang seperti kondisi di Gili Trawangan. ”Sehingga ke depannya tingkat pemanfaatannya sebanding dengan daya dukung dan tampung,” jelasnya.
Muslim menambahkan, kondisi Gili Trawangan saat ini sudah over pembangunan. Sehingga dilakukan penataan terhadap sejumlah aktivitas yang ada. Termasuk menata pengelolaan sampah. ”Kami berharap di Gili Meno ini, bersama pelaku usaha yang sudah atau akan membangun, menggunakan pola yang lebih bijak dan arif,” harapnya.
”Ini dalam rangka menata kawasan Gili dan menjamin keberadaan yang akan datang,” tandasnya.
Kepala Dusun Gili Meno Masrun mengatakan, abrasi paling sering terjadi di bagian timur ketiga pulau tersebut. ”Itu paling rawan,” katanya.
Pada akhir 2019 lalu, pihaknya melakukan pelatihan mengenai abrasi khusus pengusaha Gili Meno. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 71 pengusaha. ”Kita datangkan pemateri dari Universitas Mataram yang ahli abrasi,” ujarnya.
Setelah pelatihan, kini pengusaha di bagian timur dan utara Gili Meno sudah ada yang melakukan penanggulangan abrasi secara mandiri. Seperti melepas batu beronjong hingga batu kali di pinggir pantai depan usaha masing-masing.
Meski begitu, dirinya menilai penanganan terhadap abrasi di tiga gili ini harus lebih menyeluruh. Terutama di sekitar area pesisir pantai di pelabuhan yang menjadi sentral. Tidak hanya Trawangan saja, Gili Meno maupun Gili Air juga harus segera mendapatkan penanganan abrasi. ”Abrasi di Gili Meno dari bibir pantai sekarang ini sudah sekitar 30 meter lebih, dulu itu ada pohon sentigi, sekarang sudah tidak ada,” pungkasnya.
Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi mengatakan, abrasi terparah terjadi di Gili Trawangan bagian utara. Pada bagian tersebut, secara kasat mata luas abrasinya enam meter lebih. Bahkan jalan yang biasa digunakan hilang tergerus. ”Kalau kita lihat sudah parah ini,” ujarnya.
Abrasi ini juga dipengaruhi pembangunan di pantai. Misalnya, pengusaha membuat sesuatu yang menyentuh air laut. Hal itu membuat pola arus laut menjadi berubah. ”Jadi satu sisi ngumpul, satu sisi abrasi,” ucapnya.
Berbicara aturan, sudah ada yang mengatur mengenai larangan pembangunan di sempadan pantai. Sebab itu merupakan akses terbuka bagi semua orang yang beraktivitas di sana. ”Tapi kenyataannya kita lihat banyak yang paving,” sambungnya.
Terkait penanganan abrasi, itu harus benar-benar dikaji terlebih dahulu. Artinya, penanganan tidak hanya di titik abrasi saja, namun harus meliputi satu pulau tersebut. ”Pola aksesnya seperti apa, modelnya seperti apa, harus ada semua,” tutupnya. (fer/r9)
Editor : Galih Mps