Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belum Apa-apa, Kereta Gantung Rinjani Sudah Ditolak Guide dan Tokoh Masyarakat Bayan

Galih Mega Putra S • Jumat, 24 November 2023 | 11:10 WIB
ANTAR TAMU: Seorang guide perempuan mengantarkan wisatawan mancanegara di Pintu Masuk Gunung Rinjani Senaru, Bayan, beberapa waktu lalu.(PEMDES SENARU FOR LOMBOK POST)
ANTAR TAMU: Seorang guide perempuan mengantarkan wisatawan mancanegara di Pintu Masuk Gunung Rinjani Senaru, Bayan, beberapa waktu lalu.(PEMDES SENARU FOR LOMBOK POST)

LombokPost-Menyikapi ide kereta gantung melintasi Kabupaten Lombok Utara, guide dan tokoh masyarakat Bayan angkat bicara. Mereka sangat tidak setuju dengan adanya rencana tersebut. ”Sangat tidak setuju karena merusak alam. Bahkan ada tamu yang dilayani mempertanyakan hal tersebut di mana Rinjani ini masih alami, asri dan sangat menyayangkan sekali kalau ada kereta gantung,” kata Guide Perempuan Bayan Ni Luh Gede Anjani pada media, kamis (23/11).

Dikatakannya, yang sudah paham soal pendakian gunung akan lebih memilih mendaki langsung. Sebab perjalanan itulah yang menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi wisatawan. ”Pengunjung yang datang ke Rinjani untuk melihat keindahan dan alamnya. Jangan sampai merusak akan hal tersebut,” tambahnya.

Pemandangan sepanjang jalan ke gunung adalah nilai jual bagi pendaki untuk datang langsung. ”Mendaki itu bisa melihat langsung keindahan yang ditampilkan alam kepada pengunjung,” imbuhnya.

Belum lagi ada banyak orang bergantung pada dunia pendakian ini. Ditakutkan, kereta gantung bisa mematikan mata pencarian guide dan porter. ”Ini akan sangat mengganggu dan sangat mengancam mata pencarian kami,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Bayan Raden Nyakradi uga menolak ide kereta gantung. Menurutnya ini akan menghilangkan nilai budaya atau spriritual perjalanan menuju ke Gunung Rinjani. Menurutnya ada adab tata cara yang selama ini dijaga khususnya oleh masyarakat Bayan manakala berkunjung ke Rinjani.

Dengan adanya kereta gantung dikhawatirkan nilai budaya itu perlahan akan luntur. ”Jangan sampai pariwisata merusak nilai budaya, Rinjani itu simbol yang disucikan masyarakat Sasak,” tegasnya.

Sebagai masyarakat asli Bayan dia menolak dengan risiko apapun. Dirinya berkomitmen untuk menjaga nilai adat budaya dan spritualisasi Gunung Rinjani supaya tetap tumbuh dan terjaga. Terlebih ketika proyek itu terlaksana, bukan tidak mungkin banyaknya wisatawan yang datang menjadikan Rinjani lebih kotor. ”Secara adat apakah itu tidak bertentangan, nilai itu harus kita jaga jangankan pakai kereta, helikopter saja mau mendarat di sana tidak bisa. Saya menolak apa pun taruhannya,” kata dia. (nur/r9)

Editor : Kimda Farida
#Kereta Gantung #rinjani #Guide