Museum Desa Genggelang menyimpan berbagai benda bersejarah.
Saat ini, museum yang dibangun tahun 2028 itu mengoleksi 90 benda cagar budaya.
-----------
Ukurannya minimalis. Struktur bangunannya terdiri dari kayu. Di bagian dalam hanya satu ruangan, tak ada kamar-kamar lain.
Meski begitu, isinya bukan kaleng-kaleng. Di dalam bangunan sederhana ini berjejer rapi berbagai benda bersejarah.
Seperti keris, tombak, berbagai macam guci yang diduga produk China di masa lampau serta sejumlah benda kuno lainnya. Semuanya tersimpan rapi di Museum Desa Genggelang.
”Sebagian masyarakat nitip sehingga koleksi banyak seperti ini,” kata penjaga museum Supardi.
Museum Desa Genggelang satu-satunya museum desa di NTB. Pendiriannya atas inisiatif warga.
”Supaya benda-benda peninggalan ini tetap lestari, saya mengusulkan kepada kepala desa untuk dibuatkan tempat,” katanya.
Supardi mengaku dia mengusulkan akhir tahun 2017. Beruntung ketika itu kepala desa memberikan respon positif.
”Maka awal tahun 2018 sudah direalisasikan. Bangunan ini mulai didirikan,” cerita pria yang akrab disapa Amiq Olit itu.
Akan tetapi proses pembangunannya mengalami kendala. Seperti yang diketahui, di tahun 2018 Pulau Lombok diguncang gempa.
Lombok Utara mendapatkan dampak paling besar atas kejadian bencana alam itu.
”Bangunan belum dikasih atap, karena gempa akhirnya miring,” kisahnya.
Tujuh bulan kemudian diperbaiki menggunakan dana desa (DD).
Pada Maret 2018, Museum Desa Genggelang beroperasi.
Amiq Olit mengatakan hingga saat ini sudah banyak orang yang berkunjung. Mulai tamu mancanegara hingga warga lokal.
”Ada yang berwisata, ada yang datang untuk edukasi,” katanya.
Untuk tujuan edukasi mulai dari anak TK hingga profesor. Mereka datang untuk tujuan mempelajari sejarah hingga penelitian.
”Pernah ada dari Belanda, seorang profesor untuk melakukan penelitian,” ujarnya.
Museum ini diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Senin (7/1) lalu.
Pada kesempatan itu, Fadli Zon menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Desa Genggelang yang telah merawat sejumlah benda-benda bersejarah yang mereka miliki.
Menurutnya, keberadaan museum tersebut menjadi bukti nyata, bahwa mereka punya komitmen tinggi terhadap pelestarian budaya.
”Termasuk kepada seluruh aparat desa dan seluruh pemangku adat yang ada di Desa Genggelang serta seluruh masyarakat, kami menyampaikan ucapan terimakasih,” ucapnya.
Menbud berharap semakin banyak desa yang dapat memajukan kebudayaan dengan melestarikan adat dan kebudayaannya.
Karena masing-masing desa memiliki keunikan dan keberagaman seni budaya.
”Desa Genggelang ini menjadi saksi perjalanan panjang budaya sasak, keberadaan museum ini menjadi identitas bangsa,” katanya.
Fadli Zon menambahkan museum desa bukan hanya tempat penyimpanan artefak dan sejarah. Tetapi lebih dari itu, bisa jadi tempat edukasi, dan narasi.
”Tempat belajar segala sesuatu, untuk memperlihatkan dan memamerkan hal yang dapat diceritakan dari desa itu sendiri,” pungkasnya. (Habibul Adnan/r12)
Editor : Kimda Farida