Di awal-awal kejadian, banyak pengunjung takut datang karena beredar isu wisata tersebut tidak aman. Akibatnya, suasana Pantai Nipah yang biasanya ramai menjadi lebih lengang.
Kepala Dusun Nipah Timur Imam Efendi, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, kabar yang beredar di media sosial sempat menyebut kasus itu dipicu aksi begal, sehingga membuat masyarakat setempat merasa tersudutkan.
"Kami bersyukur kemarin sudah ada rekonstruksi yang membuat kasus ini lebih terang," katanya.
Kata dia, arga Nipah sangat dirugikan oleh tuduhan tak berdasar di media sosial. Yaitu isi yang menyebut ada pembegalan di wisata ini.
"Kini dengan adanya rekonstruksi terbuka, masyarakat bisa tahu kebenaran,” tegasnya.
Imam juga berharap wisatawan tidak lagi termakan isu miring. Menurutnya, Pantai Nipah merupakan destinasi yang indah, memiliki panorama laut yang memukau, serta sering dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Wisata Nipah cukup bagus dan menarik banyak pengunjung, dan kami pastikan aman. Jadi jangan sampai ada isu yang menyebut tempat ini tidak aman,” harapnya.
Hal senada diungkapkan Dwi Yunita, salah seorang pelaku UMKM di Pantai Nipah.
Ia mengaku dagangannya sempat sepi lantaran wisatawan takut datang setelah kasus pembunuhan itu mencuat.
“Waktu awal-awal kejadian, pembeli sangat berkurang,” tuturnya.
Namun, ia bersyukur kondisi mulai berangsur normal. Wisatawan sudah berani datang, baik dari lokal maupun luar daerah.
"Bahkan ada turis asing yang sudah kembali menikmati suasana Pantai Nipah,” ujarnya.
Dwi berharap pemerintah daerah terus mendukung promosi wisata sekaligus menjaga keamanan kawasan wisata.
Menurutnya, UMKM di Pantai Nipah sangat bergantung pada kunjungan wisatawan.
“Kalau ramai, kami bisa hidup. Kalau sepi, banyak pedagang yang susah,” pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam