LombokPost - Sebanyak 60 Pendamping PKH di Lombok Utara menerima SK pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi mereka, ini adalah buah manis dari penantian panjang.
Senyum lega dan mata berbinar tak bisa disembunyikan dari wajah 60 tenaga kontrak Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Setelah bertahun-tahun mengabdi, mereka akhirnya resmi menyandang status ASN PPPK.
Raden Zulkarnaen, Koordinator PKH KLU mengatakan, momen ini adalah buah manis dari kesabaran panjang.
Sebab, sebagian besar dari para pendamping PKH ini memiliki masa pengabdian sangat lama.
Ada yang mulai menjadi tenaga kontrak tahun 2012, paling baru tahun 2020.
"Dulu tidak pernah terbayang bisa jadi ASN. Tapi sejak ada kebijakan dua model ASN tahun 2015, harapan itu tumbuh,” ujarnya.
Menurutnya, pengangkatan ini bukan sekadar formalitas.
Status baru menjadi ASN adalah bentuk apresiasi pemerintah atas dedikasi panjang para pendamping.
“Ini hadiah luar biasa. Dorongan bagi kami untuk bekerja lebih baik lagi,” tambahnya.
Tugas para pendamping PKH, lanjut Zulkarnaen, sangat jelas. Mendukung prioritas nasional.
Mulai dari validasi data tunggal sosial ekonomi hingga meningkatkan jumlah keluarga penerima manfaat (KPM) yang berhasil graduasi.
“Di Lombok Utara, KPM PKH mencapai 21 ribu KK," katanya lagi.
Kebahagiaan serupa dirasakan Alfi Hidayat, pendamping PKH yang lain. Dia juga mengaku telah menunggu pengangkatan ini sejak 2012.
“Sudah 13 tahun kami menanti. Beberapa kali ada wacana diangkat ASN, tapi baru sekarang terwujud. Rasanya luar biasa bahagia,” tuturnya penuh syukur.
Firman Jaelani Ahmad, juga tak bisa menyembunyikan rasa haru.
Baginya, SK PPPK ini adalah jawaban doa panjang para pendamping, termasuk doa-doa masyarakat yang menerima KPM.
“Ini salah satu nikmat Allah yang patut kami syukuri," katanya.
Pendamping PKH Desa Gondang, Kecamatan Gangga ini mengaku, masa pengabdian 13 tahun bukan masa singkat.
Firman mengenang masa awal bertugas di Bayan pada 2012.
Saat itu ia membina 19 dusun dengan lebih dari 600 KK.
“Jalannya rusak parah. Kami sering kelelahan di perjalanan hingga harus menginap di desa binaan. Tapi semua itu bagian dari perjuangan. Kini, melihat angka kemiskinan menurun, kami merasa kerja keras itu tidak sia-sia,” katanya.
Menurutnya, pengangkatan 60 pendamping PKH KLU menjadi ASN PPPK tidak hanya menandai perubahan status kepegawaian.
Akan tetapi juga menjadi simbol pengakuan atas dedikasi yang selama ini kerap luput dari sorotan.
Dari jalanan berlumpur hingga data digital, dari rumah ke rumah KPM hingga meja validasi nasional, mereka telah menjadi garda depan pengentasan kemiskinan.
Ke depan, dia memastikan semangat kian berkobar.
“Kami siap bekerja lebih baik,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida