Kakao ini merupakan hasil polinas petani binaan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI NTB).
Hakamah selaku Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU) sekaligus pembina kelompok tani Murmas hadir secara langsung pada panen perdana tersebut.
Tampak juga Wakil Bupati KLU Kusmalahadi Syamsuri, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Tresnahadi, serta undangan lainnya.
Wakil Ketua DPRD KLU Hakamah menerangkan, kelompok tani Murmas telah lama berdiri. Anggotanya saat ini 15 orang.
Mayoritas di antara mereka anak-anak muda. Mereka menggarap lahan seluas 15,6 hektare dengan tanaman kakao yang mulai ditanam sejak dua tahun lalu.
Menariknya, petani menemukan beberapa varietas Kakao lokal.
Seperti varietas yang dinamakan Ijo Kajuman, Beneng Jokot, dan Mama Murmas.
Kelompok ini juga berhasil melakukan polinasi yang menghasilkan varietas baru kakao.
Dari hasil persilangan antara Mama Murmas (sebagai pejantan) dengan Ijo Kajuman, lahirlah varietas Beneng Jokot.
Dengan begitu, kelompok tani punya kebanggaan dan nilai ekonomi lebih.
Ia menambahkan, kehadiran pemerintah dalam panen perdana ini merupakan bentuk dukungan agar hasil inovasi petani mendapat perhatian lebih lanjut, termasuk dalam hal penganggaran untuk pembibitan.
Menurutnya, jika benih dari varietas kakao Lereng Murmas dikembangkan dan disebar ke wilayah lain di Lombok Utara, potensi ekonomi masyarakat akan semakin besar.
“Dari 50 are saja, petani bisa menghasilkan sekitar Rp 15 juta. Jadi masyarakat tidak perlu bekerja ke luar negeri,” ungkapnya.
Secara produktivitas, varietas baru ini cukup menjanjikan. Untuk Ijo Kajuman misalnya, dalam 15 buah beratnya mencapai 1 kilogram.
Sementara Beneng Jokot hanya 10 buah per kilogram, karena ukurannya lebih besar.
Saat ini harga kakao memang sedang turun. Harganya sekitar Rp 54 ribu per kilogram.
Akan tetapi dengan tingginya produktivitas, petani tetap untung besar.
Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri menyampaikan apresiasinya terhadap para petani di Desa Genggelang.
Khususnya petani yang berinovasi mengembangkan varietas Kakao loka,l yang punya daya saing tinggi.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan mendorong agar varietas hasil polinasi tersebut didaftarkan secara resmi sebagai varietas baru.
Sehingga ke depan, setidaknya ada tiga hasil pertanian KLU yang bersertifikasi.
Wabup Kusmalahadi mengaku, sebelumya Pemda Lombok Utara telah mendaftarkan dua produk pertanian lokal bersertifikat. Keduanya adalah Kurma dan Porang.
“Kita akan bantu proses pendaftarannya. Ini langkah penting untuk mengembalikan Lombok Utara sebagai sentra kakao di NTB sebagaimana pernah terjadi di masa lalu,” ujarnya.
Kusmalahadi berharap keberhasilan petani Lereng Murmas menjadi inspirasi bagi kelompok tani lain di Lombok Utara untuk terus berinovasi.
Sehingga para petani mampu mengembangkan potensi lokal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Siti Aeny Maryam