Dalam keterangan resminya, dia menegaskan komitmennya menjaga pasokan air bersih di kawasan wisata tiga Gili.
Seperti yang diketahui, dalan aksi tersebut, massa menyoroti ketersediaan air bersih bagi warga dan wisatawan di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.
Mereka mendesak pemerintah agar ada solusi terbaik dalam penyediaan air bersih.
Najmul Akhyar menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak pernah berniat menghentikan layanan air bersih di kawasan tiga Gili.
Dia bahkan memastikan distribusi air tetap berjalan “Pemerintah memastikan tidak terjadi zero service atau penghentian layanan," jelasnya
Kata dia, jika pasokan air tersendat, dipastikan berdampak langsung pada warga dan wisatwan.
"Ada lebih dari 4.000 warga dan 783 ribu wisatawan yang berkunjung ke tiga Gili setiap tahunnya," tambah Najmul.
Najmul menjelaskan, kerja sama antara PDAM Lombok Utara dan PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) masih sah dan mengikat secara hukum.
Skema tersebut dinilai sebagai langkah legal dan berkelanjutan untuk menjaga ketersediaan air bersih tanpa membebani anggaran daerah.
Menanggapi usulan pembangunan pipa bawah laut, Najmul menilai opsi tersebut menarik.
Akan tetapi sejauh ini belum memiliki dasar kelayakan teknis dan lingkungan yang memadai serta belum jelas dari sisi pembiayaan.
“Jika dipaksakan, hal itu justru berisiko menimbulkan gangguan pelayanan air bersih di tiga Gili dalam jangka waktu lama,” tegasnya.
Saat ini, Pemda KLU tengah mempercepat pembangunan sumur pantai (beach wells) dan optimalisasi sistem distribusi air bersih.
Langkah ini dinilai sebagai solusi paling cepat dan aman untuk menjamin layanan air bagi masyarakat dan pelaku pariwisata tetap berjalan.
Pemerintah daerah juga membuka ruang transparansi dan pengawasan publik dalam penyelesaian persoalan layanan air bersih.
Najmul mengaku, pemerintah terus berkoordinasi dengan Pemprov NTB, Kejaksaan Tinggi, dan aparat penegak hukum agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
Editor : Siti Aeny Maryam