LombokPost - Suasana malam di kawasan Senggigi tak selalu harus riuh oleh dentuman musik keras. Di depan Square Restaurant Senggigi, alunan gitar akustik berpadu dengan suara merdu Bohari justru menghadirkan suasana syahdu.
Di antara deretan meja makan dan cahaya temaram, musiknya mengalir pelan, menemani para tamu menikmati hidangan sekaligus keindahan malam pesisir Lombok Barat.
Bohari bukan nama besar di panggung musik nasional. Namun, bagi wisatawan dan pelaku pariwisata di Senggigi, suara pria asal Desa Senggigi ini kerap menjadi penghangat suasana.
Dengan gitar di tangan dan speaker elektronik sederhana, ia menyanyikan lagu-lagu yang akrab di telinga seperti pop, rock, reggae, hingga slow rock dibawakan dengan penghayatan khas musisi jalanan berpengalaman.
Ia mengaku mulai menekuni dunia musik secara serius sejak 2018, setelah gempa besar melanda Lombok. Saat itu, kondisi ekonomi masyarakat terpuruk, lapangan kerja terbatas, dan sektor pariwisata sempat lumpuh. Dalam keterbatasan itu, Bohari memilih jalan yang menurutnya paling ia kuasai, yakn bernyanyi.
"Saya pilih mengamen karena senang bernyanyi," akunya rendah hati.
Tetapi mengamennya Bohari adalah mengamen yang elegan. Bukan jual belas kasihan, tapi menjual kualitas suara dan benar-benar menghibur pendengarnya.
Sejak sore menjelang malam, Bohari bersama rekannya, Budi, bersiap dengan sepeda motor dan perlengkapan musik sederhana. Square Restaurant dan kawasan Merumatta kerap menjadi titik manggung mereka. Dari pukul 19.30 Wita hingga sekitar 22.00 Wita, keduanya mengisi malam Senggigi dengan lagu-lagu yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
Penampilan mereka tak jarang disambut apresiasi. Selain mendapatkan honor dari tempat mereka tampil, Bohari dan Budi juga menerima tip dari para tamu. "Biasanya ada terap dikasi dari restoran. Itu di luar dari tamu. Kalau lagi ramai, bisa dapat sekitar Rp 600 ribu semalam, dibagi dua,” ungkapnya.
Bagi Bohari, angka itu bukan sekadar nominal. Lebih dari itu, ia merasa bahagia bisa bekerja sambil melakukan hal yang ia cintai. Menjadi musisi jalanan memberinya ruang untuk tetap berkarya, menghibur orang lain, dan bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.
"Di tengah susahnya cari kerja, bisa menghibur orang, bernyanyi, dan dapat rezeki halal itu sudah patut disyukuri," katanya.
Kini, ketika pariwisata Senggigi perlahan bangkit, kehadiran musisi jalanan seperti Bohari menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kawasan wisata. Tanpa panggung megah, tanpa lampu sorot, suara dan gitarnya justru memberi warna tersendiri. Sebuah bukti bahwa pariwisata tak hanya hidup dari hotel dan restoran, tetapi juga dari nada-nada sederhana yang dimainkan dengan sepenuh hati. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam