LombokPost – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus mengarahkan program pelatihan kerja.
Pelatihan tersebut tidak hanya mencetak tenaga kerja siap pakai, tetapi juga melahirkan pelaku usaha baru yang mandiri.
Melalui Balai Latihan Kerja (BLK), berbagai program pelatihan telah disiapkan. Sejumlah kegiatan pelatihan itu dibuka untuk menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus mendorong lahirnya Tenaga Kerja Mandiri (TKM).
Baca Juga: Sanggah Rumor Viral, Marcos Llorente Buka Suara Soal Foto Mesra Bareng Ferran Torres di Ibiza
Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) KLU Evi Winarni menjelaskan, pelatihan yang digelar bersumber dari APBN maupun APBD.
Masing-masing sumber anggaran memiliki empat paket pelatihan dengan jenis yang berbeda.
"Kalau dari APBN ada empat paket pelatihan. Begitu juga APBD ada empat paket. Pelatihannya berbeda-beda, tetapi sama-sama diarahkan untuk menumbuhkan Tenaga Kerja Mandiri," ujarnya.
Baca Juga: KLU Dapat Bantuan Irigasi Rp 7,9 Miliar dari Pusat
Menurut Evi, pelatihan yang didanai APBN lebih banyak difokuskan pada pembentukan TKM.
Sementara pelatihan dari APBD disesuaikan dengan kebutuhan sektor pariwisata yang telah dikomunikasikan bersama pelaku usaha dan hotel di Lombok Utara.
Beberapa pelatihan yang menjadi prioritas antara lain waiter, spa, tata rias, hingga menjahit.
Bidang-bidang tersebut dinilai memiliki peluang kerja yang cukup besar sekaligus membuka kesempatan bagi peserta untuk berwirausaha.
Baca Juga: Pemda KLU Pastikan Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil
Selain pelatihan yang dilaksanakan di BLK, pemerintah juga memiliki program peningkatan pelatihan dan produktivitas melalui program Latihan Keterampilan.
Sebelumnya, program tersebut telah menggelar pelatihan pertukangan kayu.
Ke depan, DPMPTSP-Naker berencana mengembangkan pelatihan dengan menambahkan materi desain produk kayu dan pemasaran digital.
Baca Juga: Kabupaten Lombok Utara Terus Menunjukkan Perkembangan Positif di Berbagai Sektor
Langkah itu diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil karya peserta.
"Nanti kita upayakan ada pelatihan desain kayu. Jadi peserta tidak hanya bisa membuat produk, tetapi juga mampu mendesain dan memasarkannya secara digital," katanya.
Evi menegaskan, tujuan utama pelatihan bukan sekadar mencetak lulusan yang siap bekerja di perusahaan.
Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Terkait dukungan permodalan, Evi mengakui hingga saat ini pemerintah daerah belum memiliki program bantuan modal khusus.
Namun, pada beberapa kegiatan yang dibiayai APBD, peserta memperoleh bantuan berupa peralatan penunjang usaha sebagai bekal untuk memulai usaha secara mandiri.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Lombok Post