LombokPost - Di Punggung Gunung Kayangan terdapat ritual yang terus dilestarikan masyarakat setempat. Ritual itu jadi saran merawat sejarah, persaudaraan, dan identitas adat.
Kabut pagi masih menggantung tipis di lereng Gunung Sidutan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan. Satu per satu warga datang dengan langkah tenang.
Mereka berjalan beriringan menuju lokasi ritual. Anak-anak, orang tua, tokoh adat, hingga aparat pemerintah desa setempat membaur tanpa sekat. Ini merupakan ritual Adat Taek Lauk di Desa Kayangan.
Ritual ini dilaksanakan di gunung Sidutan, Desa Kayangan. Di tempat ini diyakini menyimpan jejak sejarah leluhur.
Ritual Adat Taek Lauk sebuah tradisi untuk merawat ingatan kolektif tentang asal-usul, persaudaraan, dan jati diri masyarakat Kayangan.
Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser banyak tradisi lokal, Taek Lauk tetap bertahan. Ia tetap hidup dan terus dirawat..
Kepala Desa Kayangan Edi Kartono menjelaskan, Taek Lauk mengikuti kalender adat Jango Bangar.
Tradisi tersebut dilaksanakan setiap bulan lima kalender adat, tepat pada tanggal 14 Hijriah. Tahun ini bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2026 atau 14 Safar 1448 Hijriah.
"Kami meyakini ritual pada bulan lima ini memiliki makna penting dalam menjaga kelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur," ujarnya.
Edi Kartono menceritakan, ritual tersebut merupakan napak tilas perjalanan Raden Panji Maskolo.
Dia dikenal sebagai tokoh yang dipercaya memiliki hubungan persaudaraan dengan Datu Sesait.
Konon, untuk membuktikan ikatan persaudaraan itu, Raden Panji Maskolo diminta membawa benang mengelilingi Pulau Lombok.
Bila benang itu kembali menyatu di titik awal, maka keduanya benar memiliki hubungan persaudaraan.
Raden Panji Maskolo kemudian membawa benang mengelilingi Pulau Lombok. Di tengah perjalanan, Raden Panji Maskolo wafat sebelum berhasil menyelesaikan tugasnya.
Para pengikutnya kemudian menggotong jenazah beliau dari kawasan Pal 8 Bayan menuju Gunung Kayangan.
Perjalanan panjang itulah yang diyakini menjadi asal mula lahirnya Ritual Taek Lauk.
Editor : Kimda Farida