Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Google Tawarkan Buyout Diam-Diam, Sinyal PHK Massal? Ini Jawaban Resmi dan Langkah Mengejutkan dengan OpenAI!

Alfian Yusni • Jumat, 13 Juni 2025 | 06:10 WIB
CEO Sundar Pichai menyampaikan bahwa Google tengah memasuki “fase baru” dalam pergeseran platform AI, sekaligus melakukan penataan ulang tim dan sumber daya internal. (Foto-foto: istimewa)
CEO Sundar Pichai menyampaikan bahwa Google tengah memasuki “fase baru” dalam pergeseran platform AI, sekaligus melakukan penataan ulang tim dan sumber daya internal. (Foto-foto: istimewa)

LombokPost - Raksasa teknologi asal Silicon Valley, Google, kembali menjadi sorotan dunia setelah secara diam-diam menawarkan program buyout sukarela kepada ratusan karyawan di Amerika Serikat.

Langkah ini memunculkan spekulasi besar: Apakah ini awal dari gelombang PHK massal?

Di sisi lain, Google justru membuat gebrakan baru dengan menunjuk Chief AI Architect pertama dan menjalin kerja sama tak terduga dengan rivalnya, OpenAI.

Dalam memo internal yang dibocorkan ke publik, CEO Sundar Pichai menyampaikan bahwa Google tengah memasuki “fase baru” dalam pergeseran platform AI, sekaligus melakukan penataan ulang tim dan sumber daya internal.

Salah satu langkah yang paling mencuri perhatian adalah peluncuran Voluntary Exit Program (VEP), yakni buyout dengan kompensasi menarik untuk karyawan yang ingin mengundurkan diri secara sukarela.

Program buyout ini berlaku untuk divisi besar seperti Search, Ads, Research, Core Engineering, dan Knowledge & Information (K&I), dan ditargetkan bagi karyawan yang dianggap tidak lagi cocok dengan arah strategi AI perusahaan.

Google menegaskan bahwa program buyout ini bukan PHK massal.
Google menegaskan bahwa program buyout ini bukan PHK massal.

Para peserta yang mendaftar akan menerima kompensasi hingga 14 minggu gaji, dengan tenggat waktu pengambilan keputusan hingga 1 Juli 2025.

Meski demikian, Google menegaskan bahwa program buyout ini bukan PHK massal.

“Kami tetap membuka rekrutmen untuk posisi penting dan tidak menargetkan pengurangan headcount secara paksa,” ujar SVP Nick Fox dalam email internal.

 

Langkah ini dinilai sebagai strategi efisiensi dalam menghadapi tekanan pasar.

Tahun ini saja, investasi AI Google diperkirakan menembus USD 75 miliar (sekitar Rp1.224 triliun), termasuk untuk pengembangan model AI Gemini, langganan AI premium seharga USD 249,99 per bulan, dan layanan AI di berbagai produk Search dan Workspace.

Dalam waktu bersamaan, Google mengumumkan penunjukan Koray Kavukcuoglu, CTO dari DeepMind, sebagai Chief AI Architect pertama di perusahaan.

Ia akan langsung melapor ke Sundar Pichai dan bertugas mempercepat integrasi AI generatif ke dalam semua lini produk Google.

Kavukcuoglu tetap menjabat CTO DeepMind dan berada di bawah Demis Hassabis, namun akan pindah ke California untuk menjalankan peran barunya.

 Keputusan ini dinilai sebagai upaya konkret untuk memastikan bahwa investasi AI Google benar-benar menghasilkan nilai bisnis.

“AI bukan sekadar eksperimen, ini fondasi utama arah Google ke depan,” kata Pichai dalam konferensi internal.

Yang paling mengejutkan, Google juga resmi menandatangani kerja sama dengan OpenAI, rival utamanya di industri AI.

Melalui Google Cloud, perusahaan akan menyediakan kapasitas komputasi untuk mendukung model-model besar milik OpenAI, kolaborasi yang sebelumnya dianggap mustahil.

Namun di balik gebrakan itu, langkah buyout dan kebijakan kerja di kantor (return-to-office) yang lebih ketat memunculkan pertanyaan baru: Apakah PHK massal masih akan terjadi?

Sejak awal 2025, lebih dari 75.000 karyawan sektor teknologi di AS sudah terkena PHK, termasuk dari Microsoft, Amazon, dan Intel, sebagai efek lanjutan dari pivot industri ke arah AI.

 

Google, dengan kebijakan buyout dan fokus efisiensi, berisiko mengikuti jejak yang sama.

Meski belum ada pengumuman resmi soal PHK, Google kini berada di titik krusial.

Di satu sisi, perusahaan harus menjaga profitabilitas dan menghindari penegakan hukum antimonopoli. Di sisi lain, tekanan untuk menunjukkan hasil dari investasi AI terus meningkat.

Google memang tidak (belum) memecat ribuan karyawan secara terbuka.

Tapi sinyal penghematan, buyout, dan kolaborasi besar menunjukkan bahwa raksasa ini tengah menyusun ulang peta kekuatan, dengan strategi AI Google sebagai arah utama. (***)

Editor : Alfian Yusni
#openai #program buyout sukarela #gelombang PHK massal #google #Voluntary Exit Program