Dody Fitroh Rahman jatuh cinta dengan dunia otomotif sejak bangku SMP. Berawal dari hobi utak atik mesin dan spare part motor, rasa penasarannya tumbuh menjadi keahlian. Kini dia dikenal luas ahli modifikasi dan restorasi kendaraan. Motor mini hasil rakitannya banyak diminati berbagai kalangan profesi di Metropolis.
UMAR WIRAHADI, Mataram
Baca Juga: Kemampuan Desain Grafis dan Air Brush Dibutuhkan untuk Modifikasi Sepeda Motor
Workshop seluas 12x15 meter itu dipenuhi berbagai jenis sepeda motor. Mulai dari brand Honda, Suzuki hingga Yamaha. Sebagian banyak terlihat body-nya sudah tua dan usang. Sebagian lagi tampak mengilap karena menempel spare part baru di body kendaraan. "Kalau yang lama-lama ini memang sebagian akan jadi bahan untuk modif," kata Dody Fitroh Rahman, sang pemilik workshop saat ditemui Lombok Post, Jumat (20/6).
Salah satu yang menyita perhatian adalah Honda Gorilla. Motor mini itu tampil menawan dalam balutan cat merah dan oranye. Saat dihidupkan gasnya terdengar nyaring seperti umumnya motor 4 tak. Tampilannya makin gagah dengan sorot lampu yang tajam. "Ini lampunya lebih terang karena pakai LED. Kalau standar konvensional kan pakai lampu bohlam," tutur Dody.
Motor mini itu adalah hasil modifikasi yang dikerjakan Dody sendiri. Spesifikasinya: panjang 140 sentimeter, tinggi 70 sentimeter dan lebar bodi 30 sentimeter. Dengan ukuran itu, kendaraan tersebut terlihat imut dan mungil. "Ini belum jadi seratus persen tinggal finishing sedikit. Sudah ada yang pesan sih," ujar Dody lalu tersenyum.
Menariknya, dalam Honda Gorilla yang dimodifikasi itu terdapat spare part dari empat brand besar dunia otomotif. Untuk mesin diambil dari Honda Supra X yang sudah di-upgrade menjadi 100 CC. Brand Suzuki tampak pada shock depan, velg dan swing arm. Sedangkan shock belakang memakai milik Yamaha Jupiter. Serta velg juga berasal dari sepeda motor matic pabrikan Taiwan merek Kymco. "Jadi kawin silang empat brand ini menyatu dalam bodi Gorilla (Honda Gorilla, Red)," cetus Dody lalu tertawa lepas.
Bisa dibilang, mayoritas bahan adalah hasil daur ulang. Spare part adalah hasil kanibal dari kendaraan rongsokan yang biasanya sudah tidak dimanfaatkan lagi.
Dody mendapatkan limbah kendaraan itu dari sejumlah pasar loak maupun pasar rongsokan di Lombok. Sebagian lagi di-hunting secara online juga didapat dari teman-teman anggota komunitas. "Biasanya saya kumpulin bahan-bahan dulu. Kalau sudah terkumpul semua baru mulai dirakit," ungkapnya.
Baca Juga: MGPA Buka Akses Sirkuit Mandalika untuk Komunitas Otomotif, Nikmati Sunset di Tikungan 10
Seringkali, sambung Dody, tantangan dalam melakukan modifikasi terletak pada ketersediaan bahan berupa spare part. Sabab bahan yang diincar tidak selalu ada di pasar. Sehingga harus menunggu lama sampai menemukan bahan untuk dirakit.
"Makanya harus rajin-rajin hunting bahan. Apalagi orang yang pesan seringkali minta cepat jadi," imbuhnya.
Tapi tidak semua bahan berupa daur ulang. Ada juga berbetuk custom. Dari Honda Gorilla yang ditampilkan di workshop itu ada beberapa yang sudah dibeli dalam bentuk jadi. Yaitu tangki, stang, jok, dan behel belakang. Empat bagian ini tinggal dipasang saja dalam sudah berbentuk presisi. "Selebihnya kita yang rakit sendiri. Kalau ada bahanya enak. Tapi yang jadi kendala terutama ketersediaan bahan ini," ujar pria kelahiran 20 Februari 1988 itu.
Sebetulnya, Dody sudah mulai merintis usaha otomotif itu sejak 2015. Saat itu dia mulai dengan restorasi motor tua. Motor lawas dikembalikan ke setelan pabrik alias direstorasi.
Awalnya, usaha restorasi kendaraan berjalan lancar. Banyak permintaan dari konsumen. Tapi Ketika pandemi Covid-19 melanda 2020, usahanya terdampak karena sepi. Sehingga dia pun banting stir ke motor mini. "Saya pikir harus tetap berinovasi supaya bagaimana caranya buat bertahan hidup," tuturnya.
Lambat laun usahanya bangkit lagi. Usaha modifikasi dari motor standar motor ke motor mini banyak permintaan. Itu karena tampilan motor mini dengan mudah menjadi pusat perhatian orang ketika tampil di jalan raya. Ada sensasi tersendiri ketika mengendarai motor mini. "Motivasinya orang ingin tampil beda dengan motor mini. Tapi harus safety dan nyaman saat dipakai," tutur pria kelahiran Utan, Kabupaten Sumbawa itu.
Selain modifikasi, Dody juga menginisiasi lahirnya komunitas motor mini di NTB. Namanya Motor Mini Lombok Community. Jumlah anggota komunitas sudah puluhan orang. Mereka sering touring menjelajah berbagai tempat. Seperti ke Sembalun hingga ke Bukit Mantar, Sumbawa. Ketika motor mini yang ditunggangi mengaspal di jalan raya, hal itu kontan menjadi perhatian para pengguna jalan. "Jujur saja ada rasa senang dan bangga jadi pusat perhatian," tandasnya lalu lalu tertawa. (*)
Editor : Jelo Sangaji