HAMDANI WATHONI, Giri Menang
Berada di wilayah pinggiran Lombok Barat, Desa Karang Bayan memiliki udara yang sejuk. Maklum kawasan ini dekat dengan area hutan dan pegunungan. Selama ini, Desa Karang Bayan dikenal sebagai desa penghasil buah durian, manggis dan rambutan. Tak hanya itu, desa ini ternyata menjadi desa yang akan menjadi penghasil para penghafal alquran.
"Misi saya adalah menjadikan Desa Karang Bayan ini sebagai Kampung Alquran," ujar Ketua Yayasan Darul Quran Karang Bayan Ustad Usman pada Lombok Post.
Ya, pria murah senyum ini adalah pendiri Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMPIT) Darul Quran. Tiga tahun berdiri, sekolah ini sudah menghasilkan puluhan anak-anak yang menjadi penghafal Alquran.
Tepatnya Juli 2017 lalu, bermodal Bismillah, Ustad Usman membuka SDIT Darul Quran yang memang menjadi mimpinya. Saat itu hanya sembilan siswa yang mendaftar. "Niatnya saya membuka sekolah ini karena di sekolah yang ada di desa kami, siswanya selalu overload. Jadi kami ingin membantu pemerintah mendidik anak-anak di desa kami," terangnya.
Ia bersama para guru yang ada mendidik sembilan siswa sesuai kurikulum dinas pendidikan dan kebudayaan. Namun lebih banyak pada penekanan pelajaran agama khususnya hafalan alquran.
"Alhamdulillah tahun kedua dan ketiga siswa kami terus meningkat menjadi 14 dan tahun ketiga ada 26 orang yang masuk," ucapnya.
Para orang tua siswa beramai-ramai menyekolahkan anaknya ke SDIT Karang Bayan bukan tanpa alasan. Untuk kelas 1 saja, para siswa sudah fasih menghafal Alquran. Tak tanggung-tanggung, tiga juz hafalan Alquran tersimpan rapi dalam memori otak para siswa SDIT Darul Quran. "Kalau kelas satu ada yang sudah sampai tiga juz," ungkap Ustad Usman.
Sekolah ini menerapkan metode Arbaq, pembelajaran berbasis teknologi dan IT. "Disebut metode Arbaq karena menggunakan empat tingkatan. Mendengar, mengikuti, menghafal, dan murojaq," jelasnya.
Memanfaatkan alat pemutar suara hingga TV LED, para siswa diperdengarkan lantunan ayat suci Alquran selama proses pembelajaran. Para siswa sekilas seolah mengabaikannya. Mereka sibuk bermain dan bergerak ke sana kemari. Namun ketika diminta para guru mengikuti lantunan ayat suci yang diputar, mereka begitu lancar.
"Dunia anak-anak memang seperti itu. Meskipun mereka terkesan tidak rapi atau tidak memperhatikan, tapi apa yang mereka dengarkan itu langsung terekam. Mereka nanti akan mengikuti, dan menghafal," jelasnya.
Inilah yang menjadi kunci para siswa SDIT maupun SMPIT Darul Quran rata-rata begitu fasih menghafal Alquran.
Tak hanya menghafal alquran, para siswa juga dididik untuk memiliki karakter dan akhlak mulia. Di sekolah mereka diwajibkan melaksanakan salat duha hingga salat lima waktu berjamaah.
"Kami juga punya buka penghubung untuk memantau kegiatan anak-anak di rumah. Kami fokuskan agar mereka menghormati orang tua dan membantu orang tua di rumah," jelasnya.
Selain memiliki keilmuan secara agama, para siswa juga memiliki akhlak mulia. Membantu dan menghormati orang tua dan lingkungan di sekitarnya.
Menariknya, di SDIT Darul Quran, para siswa dari kalangan anak yatim tidak dipungut biaya. "Untuk anak yatim kami gratiskan. Anak yang kurang mampu kami juga ringankan biayanya," ungkap Ustad Usman.
Kehadiran sekolah ini murni ingin melahirkan generasi penghafal Alquran dan generasi berakhlak mulia. Lebih dari itu, kehadiran sekolah ini diharapkannya bisa memutus mata rantai kemiskinan di Desa Karang Bayan. "Ini mimpi saya dari dulu," ujar Ustad Usman yang juga menjadi anggota DPRD Lobar dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut. (*/r8) Editor : Administrator