Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masjid Bayan Beleq, Bangunan Bersejarah yang Jauh Dari Kemegahan

Alfian Yusni • Sabtu, 3 Mei 2025 | 13:19 WIB
Grup wisatawan asal Surabaya saat berkunjung ke Masjid Bayan Beleq.
Grup wisatawan asal Surabaya saat berkunjung ke Masjid Bayan Beleq.

LombokPost - Di satu sudut sunyi Pulau Lombok, berdiri sebuah bangunan lawas yang jauh dari kemegahan, tapi sarat energi spiritual dan sejarah.

Namanya Masjid Bayan Beleq, bukan sekadar tempat sujud, tapi semacam kapsul waktu yang menyimpan kisah Islam yang membumi dan membaur dengan kearifan lokal.

Lokasi masjid kuno ini terletak di Jalan Labuan lombok, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Bangunannya sederhana. Lantai tanah. Dinding dari anyaman bambu.

Atap ilalang berbentuk limasan, bukan tumpang seperti masjid kuno lainnya di Lombok.

Tapi justru di situlah kekuatannya: anti-klise, anti-modern, dan anti-kemapanan dalam arsitektur rumah ibadah.

Masjid ini tak berteriak “aku tua”, tapi setiap sudutnya berbisik: “aku saksi.”

Sekitar abad ke-16, orang-orang dari Bayan datang dan membangun masjid ini.

Mereka membawa ajaran Islam Wetu Telu campuran antara Islam, animisme, dan adat lokal.

Sebuah bentuk spiritualitas yang tak terburu-buru jadi “suci” versi mainstream, melainkan tumbuh pelan-pelan dari tanah dan jiwa warga.

Sebelum modernisasi agama menyapu desa-desa pada 1960-an, Wetu Telu adalah cara mereka berislam.

Tiga kali salat sehari. Upacara Maulid lebih mirip pesta budaya.

Islam yang mereka peluk bukan hanya soal dogma, tapi juga tentang hidup berdampingan dengan leluhur dan alam.

Masjid ini seperti studio analog di tengah dunia digital.

Ketika masjid-masjid modern berlomba-lomba pasang AC dan lampu LED, Masjid Bayan Beleq bertahan dengan keringat dan cahaya alami.

Setiap injakan kaki di lantai tanahnya seperti mengaktifkan memori berusia ratusan tahun.

Dapur kayu di belakang masjid masih mengepul saat Maulid. Tidak ada branding, tidak ada komersialisasi. Hanya tradisi yang tetap bernapas.

Masjid ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Tapi jujur saja, tidak banyak yang tahu. Tidak ada papan nama yang mentereng.

Tidak ada brosur wisata di bandara. Masjid ini seperti album klasik yang disimpan di rak belakangdihargai oleh sedikit orang, tapi sangat berharga.

Di era ketika segalanya serba cepat, Masjid Bayan Beleq adalah jeda.

Ia mengajak kita berhenti sejenak, menghirup sejarah, dan bertanya ulang: sejak kapan kita mengukur nilai spiritual dari megahnya bangunan, bukan dari dalamnya makna?(***)

 

Editor : Alfian Yusni
#masjid kuno #masjid #Masjid Bayan Beleq