LombokPost-Letusan Tambora pada April 1815 merupakan salah satu peristiwa vulkanik terbesar sepanjang sejarah manusia modern.
Dentuman yang menggelegar hingga ribuan kilometer ini bukan hanya merubah lanskap Pulau Sumbawa di NTB, namun hingga mempengaruhi iklim global.
Bahkan dunia mencatatnya sebagai Tahun Tanpa Musim Panas dan dunia ilmiah mengakui dampaknya sebagai tragedi sekaligus pembelajaran penting.
Jika dunia telah mencatat Tambora sebagai letusan yang mengubah sejarah, maka kini giliran kita yang menjadikan Tambora sebagai inspirasi dalam menulis sejarah baru, sejarah kolaborasi, pelestarian, dan kemajuan berbasis nilai luhur.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora (TNT) Deny Rahadi mengatakan, sejak jalur pendakian resmi dibuka, para pelancong dapat menyaksikan secara langsung keindahan kaldera Gunung Tambora.
“Kaldera Tambora merupakan salah satu yang terluas di Indonesia dengan diameter mencapai 6 hingga 7 kilometer,” kata Deny.
Kawasan Gunung Tambora merupakan satu-satunya balai taman nasional terlengkap di Indonesia.
Kawasan ini memiliki kekayaan budaya atau etnis, dunia bawah air, edukasi, jalur off-road, jalur sepeda gunung, air terjun, pendakian, hingga wisata sejarah.
“Bahkan, pemerintah daerah telah memberikan aksesibilitas dan dukungan kuat terhadap pembukaan semua jalur wisata di Gunung Tambora agar tidak tertinggal dengan Gunung Rinjani di Pulau Lombok,” terangnya.
Menuju puncak Gunung Tambora, kata Deny, ada empat jalur pendakian utama yang dapat dilalui. Meliputi Doro Ncanga dan Pancasila yang berada di wilayah Kabupaten Dompu, serta Piong dan Kawinda Toi yang terletak di Kabupaten Bima.
Selain itu, kawasan Taman Nasional Tambora memiliki dua wisata alam non-pendakian di wilayah Resort Kawinda To’i, Kabupaten Bima dan Sanctuary Rusa di wilayah Resort Doro Ncanga, Kabupaten Dompu.
Gunung Tambora memiliki ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung yang juga disebut Gunung Tombom ini merupakan stratovolcano aktif yang berada di antara dua kabupaten, yakni Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.
“Tambora pernah meletus dahsyat April 1815 yang suaranya terdengar hingga Makasar, Batavia (Jakarta), bahkan Ternate dengan jarak 1.400 kilometer dari Sumbawa,” tambah dia.
Pengalaman mendaki Gunung Tambora pernah dilakukan Johan Rosihan, anggota DPR RI Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa.
Menurutnya, Gunung Tambora adalah sejarah yang hidup. Tambora lebih dari sekadar tempat.
Tambora menjadi ruang refleksi kolektif tentang kerentanan, kekuatan, dan keberlanjutan.
Itulah yang membuat kawasan ini layak dipertahankan sebagai situs peradaban sekaligus pendidikan.
“Warisan budaya Tambora juga dapat dikemas sebagai bagian dari geowisata edukatif. Jalur-jalur pendakian dapat diberi nama berdasarkan tokoh sejarah atau kerajaan yang pernah ada. Cerita-cerita lisan bisa diangkat dalam bentuk pertunjukan budaya di basecamp atau titik-titik istirahat,” sarannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata politisi PKS ini, Tambora mulai dikenal di kalangan pendaki dan wisatawan Nusantara sebagai destinasi yang menantang dan memesona.
Namun potensi pariwisatanya jauh melampaui itu.
Dengan pendekatan yang tepat, Tambora bisa menjadi contoh sukses dari integrasi antara ekowisata, konservasi, dan edukasi publik.
Konsep eduwisata di Tambora harus dibangun berdasarkan prinsip low impact – high learning.
Artinya, pariwisata yang tidak merusak lingkungan namun memberi nilai tambah pengetahuan dan kesadaran ekologis bagi pengunjung.
Edukasi tentang sejarah letusan, konservasi satwa, hingga pelestarian budaya lokal bisa menjadi bagian integral dari setiap paket wisata.
Infrastruktur wisata pun perlu didesain secara ramah lingkungan.
Mulai dari jalur pendakian yang aman namun tetap alami, pos informasi yang edukatif, hingga penyediaan energi bersih di titik-titik istirahat.
Semua ini perlu dirancang dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, bukan sekadar tenaga pendukung.
Pemerintah daerah dan kementerian terkait harus menyusun masterplan pariwisata Tambora yang berorientasi jangka panjang.
Sertifikasi pemandu wisata, pelatihan masyarakat, hingga promosi digital yang etis harus digencarkan.
“Kita tak ingin Tambora bernasib sama seperti destinasi lain yang terjebak dalam pariwisata massal tak terkendali,” kata mantan anggota DPRD NTB ini.
Ketika Tambora dikenalkan sebagai destinasi wisata berbasis ilmu pengetahuan dan pelestarian, maka wisatawan yang datang bukan hanya membawa pulang foto, tetapi juga kesadaran dan cinta terhadap alam Indonesia.
Sebagai pecinta alam dan wakil rakyat, Johan meyakini bahwa Tambora bisa menjadi teladan nasional.
“Bagaimana kita memperlakukan bumi dengan penuh hormat. Bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dimuliakan. Maka, mari kita jaga Tambora dengan ilmu. Rawat Tambora dengan budaya. Kembangkan Tambora dengan etika. Dan wariskan Tambora dengan kebijakan yang bijak,” tutup Johan. (ewi)
Editor : Kimda Farida