Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pantai Lariti, Keajaiban Laut Terbelah di Ujung Timur Bima

Geumerie Ayu • Sabtu, 18 April 2026 | 14:19 WIB
KEAJAIBAN ALAM: Keindahan fenomen laut terbelah di Pantai Lariti, Desa Soro, Kecamatan Lambu, Bima. (IST/LOMBOK POST)
KEAJAIBAN ALAM: Keindahan fenomen laut terbelah di Pantai Lariti, Desa Soro, Kecamatan Lambu, Bima. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost - Jika fenomena laut terbelah hanya ada dalam kisah sejarah atau film, maka kunjungilah Desa Soro, Kecamatan Lambu, Bima.

Di sana membentang Pantai Lariti, sebuah destinasi eksotis di NTB yang menawarkan keajaiban alam unik.

Fenomena unik tersebut berupa kemunculan jalan pasir yang seolah membelah lautan menjadi dua. Berjarak sekitar 7,1 kilometer dari Pelabuhan Sape atau sekitar 2-3 jam perjalanan dari pusat Kota Bima.

Baca Juga: Pemkot Bima Raih Dua Anugerah Reksa Bandha

Pantai Lariti menjadi salah satu daftar destinasi wisata terbaik yang wajib dikunjungi saat mengeksplorasi Pulau Sumbawa.

Daya tarik utamanya, kemunculan jembatan alam berupa jalan berpasir putih sepanjang kurang lebih 350 meter dengan lebar sekitar tiga meter.

Jalan ini menghubungkan pesisir pantai dengan sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Pulau tersebut dikenal dengan nama Pulau Liman atau Gunung Kecil seluas satu hektare.

 Baca Juga: Pemkot Bima Canangkan Kelurahan Cantik, Perkuat Budaya Sadar Data

Fenomena menakjubkan ini biasanya terjadi mulai pukul 10.00 Wita. Saat air laut surut, pengunjung dapat berjalan kaki menyeberangi lautan menuju pulau di seberangnya tanpa perlu menggunakan perahu.

Namun, wisatawan harus waspada karena sekitar pukul 15.30 Wita. Air laut akan kembali pasang dan menenggelamkan jalur tersebut ke dalam birunya samudera.

Nama Lariti diambil dari nama lingkungan desa setempat. Namun, di balik populernya nama Lariti, pantai ini menyimpan sejarah unik. Pada zaman dahulu, kawasan ini dikenal dengan nama Pantai Lampa Jara. Dalam bahasa lokal, Lampa Jara berarti Jalanan Kuda.

Baca Juga: Sasar 1.200 Lansia dan Disabilitas, Pemkot Bima Mulai Salurkan PKH Daerah

Konon, lokasi ini merupakan tempat favorit untuk melepas ternak kuda. Termasuk kuda-kuda milik Sultan Bima, agar dapat berlarian bebas di sepanjang pesisir. Kini, jejak sejarah tersebut berganti menjadi pusat swafoto bagi para wisatawan yang terpukau oleh kecantikan alamnya yang masih alami.

Dahulu, akses menuju Lariti cukup menantang dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua karena medan yang berkelok dan berbatu. Namun, seiring berkembangnya industri pertambakan udang dan perhatian Pemkab Bima, akses jalan kini sudah mulai terbuka dan dapat dilalui oleh mobil.

Fasilitas umum di sekitar pesisir juga terus dibenahi demi kenyamanan pengunjung. Untuk mencapai lokasi ini, wisatawan dapat menempuh dua jalur utama.

Pertama, jalur darat melalui Kecamatan Sape dengan rute perbukitan yang menawarkan pemandangan indah. Kedua, jalur laut menggunakan kapal nelayan lokal dari Pelabuhan Sape untuk sensasi perjalanan yang lebih seru.

Agar pengalaman liburan maksimal, pastikan untuk memperhatikan waktu pasang surut air laut. Datanglah sebelum pukul 10 pagi untuk menyaksikan momen perlahan munculnya jalan pasir tersebut.

Pastikan sudah kembali ke daratan utama sebelum sore hari agar tidak terjebak di pulau seberang saat air pasang kembali. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. (fer/r8)

Editor : Redaksi
#pantai lariti #pulau #pengunjung #Bima #Akses Jalan