LombokPost - “Jika mendapat kesenangan dia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, maka sabar itu baik baginya”. (HR. Tirmidzi)
Pembaca yang budiman. Ada dua pemaknaan Ramadan menurut Prof Quraish Shihab. Pertama, mengasah batin dan keimanan seorang hamba. Karena dengan itu bisa mencapai tingkatan yang tinggi yaitu muttaqin sesuai dalam QS Al-Hujurat ayat 13. Maka jika sudah diasah, melaksanakan ibadah di bulan Ramadan semakin kuat keimanannya.
Kedua, dimaknai membakar yaitu dosa-dosa seorang hamba yang meminta ampunan kepada-Nya, walaupun dosanya menggunung tetap ampunanNya lebih luas dari itu.
Pembaca Insight Ramadan yang berbahagia. Puasa Ramadan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan jiwa.
Dalam Islam, manusia dipandang sebagai kesatuan antara tubuh, akal, dan hati. Karena itu, ibadah puasa hadir sebagai sarana penyucian diri yang menyeluruh,menenangkan batin, menata emosi, dan memperkuat ketahanan mental.
Saat berpuasa, ritme hidup seseorang berubah. Pola makan diatur, aktivitas lebih terkontrol, dan ibadah lebih diintensifkan. Perubahan ini menciptakan ruang jeda dari kesibukan duniawi yang sering kali memicu stres dan kegelisahan.
Puasa mengajarkan manusia untuk melambat sejenak ibarat kendaraan menaiki jalan yang curam untuk merenung, dan kembali menemukan ketenangan dalam kedekatan dengan Allah SWT.
Puasa juga melatih pengendalian emosi, yang merupakan kunci kesehatan jiwa.
Lapar dan dahaga menjadi ujian bagi kesabaran dan kestabilan emosi. Dalam kondisi ini, seseorang belajar mengenali dan mengelola kemarahan, kecemasan, serta dorongan negatif dalam dirinya. Kemampuan menahan diri inilah yang memperkuat kesehatan mental dan membentuk ketangguhan psikologis.
Selain itu, puasa membantu membersihkan jiwa dari beban-beban batin. Dengan memperbanyak zikir, doa, dan membaca Alquran, hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih jernih.
Aktivitas spiritual ini berfungsi sebagai terapi jiwa, mengurangi kegelisahan, dan menumbuhkan rasa aman karena bersandar kepada Allah SWT. Jiwa yang dekat dengan Tuhan cenderung lebih stabil dan optimis dalam menghadapi persoalan hidup.
Pembaca Insight Ramadhan yang berbahagia. Puasa juga menumbuhkan rasa syukur, yang berperan besar dalam kesehatan jiwa. Ketika seseorang merasakan lapar, ia belajar menghargai nikmat yang selama ini dianggap biasa.
Sabda Nabi SAW: “Jika mendapat kesenangan dia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, maka sabar itu baik baginya”. (HR. Tirmidzi)
Rasa syukur yang tumbuh akan mengurangi keluhan, iri hati, dan ketidakpuasan. Jiwa yang bersyukur adalah jiwa yang lebih damai dan lapang.
Dari sisi sosial, puasa memperkuat kesehatan jiwa melalui hubungan yang lebih harmonis dengan sesama. Empati terhadap orang lain meningkat, kepedulian sosial tumbuh, dan semangat berbagi menguat.
Hubungan sosial yang sehat berkontribusi besar pada kesejahteraan mental, karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan kebersamaan dan kasih sayang. Namun, manfaat puasa bagi kesehatan jiwa akan optimal jika dijalani dengan kesadaran dan keseimbangan.
Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan atau melampiaskan emosi, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Ketika puasa disertai niat yang lurus dan ibadah yang berkualitas, ia menjadi sumber ketenangan dan kekuatan batin.
Akhirnya, puasa adalah terapi jiwa yang bersifat spiritual. Ia menenangkan hati, menyeimbangkan emosi, dan menguatkan mental.
Semoga Ramadan menjadikan kita pribadi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat jiwa dan batin, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan lebih tenang, sabar, dan penuh makna. Wallohu’alam bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida