Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ramadan dan Kepedulian Sosial, Sedekah Akan Jadi Penebus Setiap Kesalahan dan Dosa

Lombok Post Online • Rabu, 11 Maret 2026 | 13:35 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)

LombokPost - “Sedekah itu akan memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (HR: Tirmizi)

Pembaca Insight Ramadan yang budiman. Dalam buku Half Full-Half Empty ditulis kisah sebagai berikut.

Sepasang suami isteri yang berusia lanjut, suatu kali mengunjungi kantor pusat untuk bernostalgia tentang suka duka ketika mereka masih aktif berkerja dahulu. Kesempatan bernostalgia ini rupanya dimamfaatkan mereka untuk menikmati sop buntut yang tersohor di kantin dalam kantor pusat tersebut.

Kebetulan, ketika itu jam makan siang sehingga pegawai yang santap siang di sana. Suami isteri lalu masuk antrean untuk memesan sop buntut. Mereka memesan satu porsi sop buntut beserta nasinya, dan dua gelas es teh manis serta sebuah piring kosong dan mangkuk.

Semua yang melihat mereka heran. Sepasang suami isteri ini hanya memesan satu porsi. Bahkan, beberapa pegawai iba melihat betapa menderitanya nasib pensiunan ini sehingga untuk makan siang di kantin saja hanya memesan satu porsi.

Sang suami lalu membagi nasi menjadi dua bagian, demikian pula sop buntutnya. Satu bagian untuk dirinya dan bagian lain diserahkan untuk isterinya. Mulailah mereka makan. Namun, yang makan adalah suami dulu, sementara sang isteri dengan tersenyum menunggu dan menatap kekasihnya makan.

Seorang pegawai tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan menuju meja mereka. Dengan rasa iba, pegawai ini menawarkan kepada pasangan suami isteri ini satu porsi lagi sop buntut gratis, ia yang mentraktir. Dia merasa tidak tahan melihat sepasang suami isteri ini,sementara ia sendiri hidup berkecukupan. Namun, tawaran pegawai ini ditolak secara halus sambil tersenyum oleh pasangan ini dengan menggunakan bahasa isyarat.

Sang suamipun kembali melanjutkan santap siangya, sementara sang isteri hanya menatap sambil tersenyum hingga sop buntut bagianya menjadi dingin. Setelah beberapa lama, kembali si pegawai yang berkecukupan itu gelisah melihat tingkah pasangan ini. Sang isteri ternyata tidak makan, hanya menunggu sang suami makan.

Betapa cintanya sang isteri kepada suami sehingga rela berkorban menunggu sang suami selesai makan. Kembali, pegawai tadi dengan penasaran mendatangi sang ibu dan bertanya: “Ibu, saya melihat ibu hanya menunggu bapak makan sementara ibu sendiri tidak makan. Kalau boleh tahu,apakah yang ibu tunggu?” Dengan tersenyum sang ibu menjawab, “Yang saya tunggu adalah gigi, sementara ini masih dipakai bapak!”.

Dari kisah di atas, dapatlah kita menarik banyak hikmah, bahwa sikap berbagi haruslah hadir pada diri setiap orang. Namun demikian, Terkadang, setiap kali seseorang mendengar kata mari berbagi. Seakan-akan ada perasaan berat bahkan takut merasa kekurangan apabila harta benda yang diperolehnya dengan susah payah itu ikut juga dinikmati oleh orang lain.

Perasaan berat hati itu semakin ditambah dengan perasaan akan kekurangan dan kehilangan harta. Akibatnya, ia menjadi linglung antara berbagi ataukah tidak, antara memberi atau menerima. Padahal berbagi adalah perbuatan mulia yang tidak hanya dinikmati hasilnya oleh sang penerima tetapi juga dinikmati oleh sang pemberi.

Setiap kali seseorang berbagi dengan menginfakkan sebagian hartanya, Allah akan menambah nikmat kesehatan jasmani, ketenangan bathin, dan keluasan rezeki kepada individu yang suka memberi dengan ikhlas. Dalam sebuah hadist, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya, Allah memiliki dua malaikat yang berdoa kepadaNya setiap pagi; malaikat yang satu berdoa: ’Ya Allah berilah ganti untuk orang yang berinfak!’ sedang malaikat yang satunya berdoa: ’Ya Allah, berilah kebinasaan pada orang yang kikir!” (HR; Bukhari Muslim).

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Diantara sahabat beliaupun tercatat banyak pribadi pribadi yang gemar berbagi mengatasi kesusahan orang lain, gemar berbagi di jalan Allah Swt adalah warisan para Anbiya, sahabat, waliyullah dan para salafus salih.

Usman bin Affan RA salah seorang sahabat nabi bahkan menyumbangkan separo hartanya di jalan Allah SWT untuk menjamu pasukan kaum muslimin saat melawan kaum kafir di Tabuk, dan ia pun membeli sumur Roumah untuk persediaan minum kaum muslimin.

Begitu pula, sahabat Abdurrahman bin Auf yang terkenal kaya raya juga bersedekah dengan tujuh ratus ekor unta untuk kaum fakir miskin di kota Madinah. Karenanya, tidak salah bila di bulan Ramadan kita dianjurkan banyak berbagi agar Allah SWT melipat gandakan pahala kita dan rezeki setiap muslim, sebab, segala sesuatu yang diinfakkan oleh setiap orang baik berupa makanan, minuman maupun pakaian, semuanya akan sirna kecuali jika akan diinfakkan di jalan Allah SWT dan bukankah setiap harta yang kita sedekahkan akan menjadi perisai bagi kita di akherat kelak?

Dan setiap sedekah yang kita keluarkan akan menjadi penebus setiap kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan. “Sedekah itu akan memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmizi) Begitu pesan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Wallohu’alam bis shawab. (*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#orang baik #Fakir Miskin #sedekah #penebus dosa #dermawan