Mengutip laporan dari kantor berita Tasnim, Kamis (26/3/2026), mobilisasi besar-besaran ini merupakan respons atas spekulasi mengenai potensi invasi darat oleh militer AS di front selatan Iran.
Sumber militer yang mengetahui informasi tersebut menyatakan bahwa kesiapan pasukan Iran saat ini berada pada level tertinggi. Para pejuang darat dilaporkan bersiap memberikan perlawanan sengit jika pasukan Amerika benar-benar menginjakkan kaki di tanah Iran.
“AS ingin membuka Selat Hormuz dengan taktik bunuh diri dan penghancuran diri; itu tidak masalah. Kami siap untuk strategi bunuh diri mereka dieksekusi dan agar Selat tetap tertutup,” ujar sumber militer tersebut.
Selain mobilisasi satu juta personel yang sudah terorganisir, otoritas setempat juga mencatat adanya lonjakan permintaan dari pemuda Iran. Mereka mendaftarkan diri melalui pusat-pusat Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Angkatan Darat untuk ikut serta dalam pertempuran.
Eskalasi konflik ini merupakan buntut dari kampanye militer skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan memuncak pasca-peristiwa pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan senior dan warga sipil.
Serangan udara ekstensif tersebut menyasar berbagai lokasi militer dan fasilitas sipil di seluruh penjuru Iran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur luas serta jatuhnya banyak korban jiwa.
Sebagai bentuk respons, Angkatan Bersenjata Iran telah melancarkan serangkaian operasi pembalasan. Gelombang serangan rudal dan drone dilaporkan telah menargetkan posisi-posisi strategis Amerika dan Israel, baik di wilayah pendudukan maupun pangkalan militer regional.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz. Jalur perdagangan energi dunia tersebut kini berada dalam kondisi kritis seiring dengan ancaman penutupan total yang ditegaskan oleh pihak Teheran sebagai bagian dari strategi pertahanan mereka.
Editor : Redaksi Lombok Post