Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Retribusi Jadi Penopang Utama PAD, Capaian PAD Bima 2025 Tembus Rp 191 Miliar

L
Penulis: Lombok Post Online❯
LAYANI PEMBAYARAN PAJAK: Petugas Bappenda Bima sedang melayani masyarakat yang membayar pajak, belum lama ini.
LAYANI PEMBAYARAN PAJAK: Petugas Bappenda Bima sedang melayani masyarakat yang membayar pajak, belum lama ini.

LombokPost - Kinerja Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bima tahun anggaran 2025 menunjukkan tren positif.


Advertisement

Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Bima mencatat realisasi PAD hingga akhir tahun anggaran mencapai Rp 191,8 miliar atau 87,13 persen dari target APBD murni sebesar Rp 220,1 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappenda Bima Agus Salim menjelaskan, capaian tersebut bersumber dari sejumlah komponen pendapatan daerah, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor retribusi daerah.

Advertisement

“Dari target retribusi daerah sebesar Rp 155 miliar, realisasi mencapai Rp 142,9 miliar atau 92,19 persen. Ini menjadi penyumbang terbesar PAD Kabupaten Bima tahun 2025,” sebutnya, kemarin.

Sementara itu, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan mencatatkan kinerja sangat baik. Dari target Rp 7,56 miliar, realisasi mencapai Rp 8,44 miliar atau 111,68 persen, melampaui target yang telah ditetapkan.

Namun, untuk komponen lain-lain PAD yang sah, realisasinya masih relatif rendah. Dari target Rp 15,49 miliar, pendapatan yang berhasil dikumpulkan baru mencapai Rp 4,67 miliar atau 30,14 persen.

“Komponen ini masih perlu dioptimalkan ke depan agar kontribusinya terhadap PAD bisa lebih maksimal,” kata Agus.

Pada sektor pajak daerah yang menjadi kewenangan langsung Bappenda, target tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp 42,58 miliar. Realisasi yang dicapai sebesar Rp 35,78 miliar atau 85,03 persen. 

Agus menilai capaian tersebut merupakan hasil dari upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah yang dilakukan secara konsisten sepanjang tahun.

"Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja pajak daerah menunjukkan peningkatan signifikan," jelasnya.

Pada 2024, realisasi pajak daerah hanya mencapai Rp 16,88 miliar atau 57,70 persen dari target Rp 29,26 miliar.

Sementara pada 2023, realisasi pajak daerah tercatat Rp 16,63 miliar atau 69,16 persen dari target Rp 24,04 miliar.

“Ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja Bappenda sekaligus meningkatnya kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Meski demikian, Agus mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan pendapatan daerah.

Di antaranya keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, serta penerapan sistem self assessment yang masih membuka peluang ketidakakuratan pelaporan omzet dan potensi kebocoran pajak.

Untuk mengoptimalkan capaian PAD ke depan, Bappenda akan memperkuat sistem administrasi perpajakan berbasis digital, melakukan pemutakhiran data potensi pajak, meningkatkan koordinasi lintas perangkat daerah, serta memperluas sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Pengawasan dan pemeriksaan wajib pajak juga akan terus ditingkatkan,” pungkasnya. (gun/r5)

Advertisement
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

 Residu Sampah MotoGP Berpotensi Sumbang PAD Loteng

Residu Sampah MotoGP Berpotensi Sumbang PAD Loteng

55 ton residu sampah MotoGP diperkirakan berpotensi menyumbang retribusi sekitar Rp 55 juta bagi pendapatan asli daerah (PAD) Loteng

Setoran Pajak Usaha Pariwisata Masih Minim

Setoran Pajak Usaha Pariwisata Masih Minim

Dari puluhan usaha pariwisata di Kecamatan Sembalun, sejauh ini baru tiga yang memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Optimalisasi Pariwisata Sembalun untuk Dongkrak PAD

Optimalisasi Pariwisata Sembalun untuk Dongkrak PAD

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lombok Timur terus berupaya menggenjot perolehan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata di sembalun

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer