Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Celah PHP2Shell: Ancaman Keamanan AI yang Memaksa Situs Down

M
Penulis: Marthadi❯
Foto ilustrasi yang diambil pada 21 Oktober 2026 memperlihatkan sebuah gembok di depan layar laptop yang menampilkan kode biner di Frankfurt am Main, Jerman bagian barat. (AFP)
Foto ilustrasi yang diambil pada 21 Oktober 2026 memperlihatkan sebuah gembok di depan layar laptop yang menampilkan kode biner di Frankfurt am Main, Jerman bagian barat. (AFP)

Advertisement

 

LombokPost - Pemerintah di berbagai belahan dunia terpaksa menonaktifkan sejumlah situs resmi sebagai langkah mitigasi darurat. Keputusan ini diambil menyusul temuan celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP yang menopang mayoritas infrastruktur internet global.

Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat atau NSA mengeluarkan peringatan resmi pada Rabu. Mereka mendesak seluruh organisasi yang mengandalkan sistem berbasis PHP untuk segera melakukan pembaruan kode atau memutus akses situs jika langkah tersebut belum bisa dilakukan.

Advertisement

"Segera berlaku, seluruh organisasi yang menggunakan PHP dalam sistem mereka diminta bersiap untuk pembaruan guna mengatasi dua kerentanan kritis," kata pihak NSA melalui unggahan di media sosial.

Dampak dari temuan ini terasa hingga Eropa dan Asia. Kementerian Transformasi Digital Jerman mengambil langkah pencegahan dengan mematikan sebagian situs web mereka. Sementara di Prancis, Kementerian Dalam Negeri memutuskan menonaktifkan portal resmi kantor administratif wilayah sebagai bentuk proteksi.

Advertisement

Negara-negara lain seperti Belgia, Belanda, Finlandia, dan Republik Ceko turut melaporkan penutupan situs web sementara untuk menerapkan tambalan keamanan. Bahkan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ikut memberikan peringatan publik mengenai risiko keamanan siber ini melalui media sosial.

Kerentanan yang dijuluki sebagai PHP2Shell ini ditemukan berkat bantuan model kecerdasan buatan atau AI. Peneliti dari firma keamanan Calif yang bekerja sama dengan OpenAI melaporkan celah pertama pada 11 Agustus. Celah kedua kemudian diidentifikasi oleh perusahaan Wiz pada 24 Agustus.

Menurut pihak Wiz, temuan ini merupakan salah satu kerentanan paling parah dalam sejarah perangkat lunak. Meski celah tersebut sebenarnya telah ada selama beberapa dekade, pembuktian potensi eksploitasinya membutuhkan rangkaian prosedur yang sangat kompleks bagi peneliti manusia.

Penggunaan alat AI terbukti efektif memangkas waktu pengujian serangan jauh lebih cepat daripada kemampuan pengembang secara manual. Pihak Yayasan PHP sebagai pengelola bahasa tersebut mengakui bahwa temuan ini termasuk yang paling berbahaya selama mereka beroperasi.

Kedua celah ini memungkinkan penyerang mengakses memori tanpa otorisasi yang sah. Dengan memanfaatkan akses tersebut, peretas dapat menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh di server yang menjalankan versi PHP lama tanpa memerlukan kata sandi maupun akses akun resmi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Aturan Sisa Kuota Internet Belum Dipatuhi Penuh, Menkomdigi: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

Aturan Sisa Kuota Internet Belum Dipatuhi Penuh, Menkomdigi: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

Meutya Hafid menyebut kepatuhan operator seluler terhadap aturan sisa kuota internet masih 50–70 persen. Evaluasi kembali dilakukan tiga bul

Komdigi Siapkan Tindak Lanjut Putusan MK soal Kuota Internet

Komdigi Siapkan Tindak Lanjut Putusan MK soal Kuota Internet

Komdigi mengkaji penyesuaian regulasi setelah MK memutuskan sisa kuota internet pelanggan tidak boleh hangus.

MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus: Operator Wajib Sediakan Fitur Rollover hingga Refund

MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus: Operator Wajib Sediakan Fitur Rollover hingga Refund

Penyelenggara Telekomunikasi Diminta Lebih Transparan. MK menegaskan sisa kuota internet yang telah dibeli konsumen merupakan hak milik.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer