Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perang Terbuka, Pakistan Bombardir Afghanistan

Lombok Post Online • Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:44 WIB

BERJAGA: Seorang tentara Pakistan berjaga di perbatasan Pakistan-Afghanistan di Chaman setelah baku tembak lintas perbatasan semalaman antara kedua negara, Jumat (27/2).
BERJAGA: Seorang tentara Pakistan berjaga di perbatasan Pakistan-Afghanistan di Chaman setelah baku tembak lintas perbatasan semalaman antara kedua negara, Jumat (27/2).

LombokPost - Saat semua mata tertuju ke kawasan Teluk Persia, di mana Amerika Serikat diperkirakan akan menyerang Iran, perang justru pecah lebih dulu di kawasan yang tak terlalu jauh dari sana. Jet-jet tempur Pakistan membombardir ibu kota Kabul serta Provinsi Paktia dan Kandahar Jumat (27/2).

Sebelumnya, pada Kamis (26/2) malam, Taliban, kelompok yang kembali berkuasa di Afghanistan sejak 2021, melancarkan serangan besar-besaran di sepanjang perbatasan kedua negara yang disebut sebagai Garis Durand.

Garis Durand sepanjang 2.640 kilometer ditetapkan pada 1893 oleh Mortimer Durand, diplomat Inggris yang menjabat pejabat tinggi di pemerintahan kolonial Inggris di India yang kala itu belum berpisah dengan Pakistan—dan Abdur Rahman Khan, Emir Afghanistan. Sampai sekarang Afghanistan tak mengakui keabsahan Garis Durand, sedangkan Pakistan mengakuinya.

“Ini perang terbuka antara kami dan Taliban di Afghanistan,” kata Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif seperti dikutip dari Al Jazeera Jumat (27/2).

Taliban menjawab pernyataan perang itu dengan menyatakan, bahwa mereka telah menargetkan berbagai fasilitas militer penting sang tetangga.

“Itu artinya tangan kami bisa mencekik leher mereka,” kata Juru Bicara Pemerintahan Taliban Zabihullah Mujahid seperti dikutip dari BBC.

Sampai berita ini selesai ditulis pukul 19.00 tadi malam, Juru Bicara Pemerintah Pakistan Mosharraf Zaidi menyatakan, di platform X kalau sebanyak 274 pejuang Taliban Afghanistan tewas dan lebih dari 400 luka-luka.

Sebanyak 27 pos militer Taliban juga dihancurkan dan sembilan berhasil dikuasai.

Sementara itu, Mujahid mengatakan, 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos direbut. Namun, angka-angka tersebut masih klaim masing-masing pihak dan belum bisa diverifikasi secara independen.

Akumulasi Ketegangan

Perang ini merupakan akumulasi ketegangan kedua pihak selama berbulan-bulan. Awal bulan ini, Pakistan menuding pengeboman bunuh diri di wilayah mereka didalangi kelompok dari Afghanistan. “Kesabaran kami sudah habis,” ujar Asif.

Namun, belum jelas siapa yang memprovokasi lebih dulu. Menurut Obaidullah Baheer, analis politik yang berbasis di Kabul, Taliban menyebut serangan mereka pada Kamis malam merupakan serangan balasan atas pengeboman madrasah dan rumah sejumlah warga Afghanistan oleh Pakistan pada Minggu (22/2).

Secara perimbangan kekuatan militer, kedua negara sangat timpang. Pakistan memiliki 660 ribu tentara, sedangkan Taliban 172 ribu personel.

Islamabad juga memiliki 6 ribu kendaraan tempur lapis baja dan lebih dari 4.600 artileri. Sementara itu, Kabul hanya memiliki beberapa kendaraan lapis baja dan artileri, sebagian besar berasal dari era Soviet, tetapi jumlah pastinya belum jelas.

Pakistan juga merupakan negara yang memiliki senjata nuklir, sedangkan Afghanistan tidak. Begitu pula kekuatan udara. Pakistan mengoperasikan 465 pesawat tempur dan lebih dari 260 helikopter, sedangkan Afghanistan tidak memiliki jet tempur dan hanya sejumlah kecil pesawat serta helikopter tua dengan status operasional yang tidak pasti.

Karena itu, serangan udara menjadi andalan Pakistan untuk menggempur Afghanistan. Namun, meski Asif menyebutnya sebagai perang terbuka, Pakistan diperkirakan tidak akan membawa pasukan daratnya menyeberangi perbatasan. Sebab, mereka bisa menjadi sasaran empuk Taliban yang jauh lebih memahami medan.

Kelompok Militan

Hubungan Kabul dan Islamabad memang sudah lama tegang karena Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang melakukan serangan lintas batas. Taliban telah berulang kali membantah tuduhan itu. Mereka juga menegaskan bahwa masalah keamanan Pakistan adalah urusan dalam negeri Pakistan sendiri.

Sejumlah negara langsung merespons perang tersebut. Menurut kantor luar negeri Arab Saudi, Menteri Luar Negeri Pakistan dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi telah berbicara kemarin untuk membahas upaya meredakan ketegangan. Namun, tidak dijelaskan apakah Riyadh terlibat dalam mediasi gencatan senjata.

Rusia, satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban, turut menyerukan penghentian perang yang terjadi. Menurut laporan media pemerintah yang mengutip Kementerian Luar Negeri di Moskow, Kremlin bahkan menyatakan, siap menjadi mediator jika diminta kedua pihak.

Sementara itu, Sami Omari, pakar keamanan dan urusan strategis Asia Selatan dan Tengah, mengatakan bahwa bentrokan antara Pakistan dan Afghanistan sudah kerap terjadi. Sejak 2021, telah meletus 75 bentrokan antara pasukan Afghanistan dan Pakistan.

“Selama waktu itu, Pakistan telah melakukan tujuh serangan udara independen yang terdokumentasi di Afghanistan, termasuk serangan terbaru pada hari Jumat (kemarin),” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.

Terpisah, Direktur Program Asia Selatan di lembaga think tank Stimson Center di Washington DC Elizabeth Threlkeld mengatakan, bentrokan terbaru ini berakar dari ketegangan yang memburuk selama berbulan-bulan antara kedua negara.

“Jadi, tidak, saya tidak terkejut bahwa setelah serangan-serangan kumulatif tersebut, ketegangan telah memburuk dan keadaan kembali mengarah ke arah ini, sayangnya,” paparnya.

Pakistan sebenarnya membantu melahirkan Taliban pada awal 1990-an sebagai cara untuk memberi kedalaman strategis dalam persaingannya dengan India. Pakistan juga menyambut hangat kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada 2021. Namun, Islamabad segera mendapati bahwa Taliban tidak sekooperatif yang diharapkan. (mia/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Taliban #afghanistan #pakistan #juru bicara #militer