Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kerajinan Bambu Lombok Terkendala Pengiriman ke Luar Negeri

G
Penulis: Geumerie Ayu❯

DIMINATI WISMAN: Pemilik Loyok Yat Artshop Lalu Sopiandi menjelaskan tentang produk di galeri miliknya, belum lama ini.
DIMINATI WISMAN: Pemilik Loyok Yat Artshop Lalu Sopiandi menjelaskan tentang produk di galeri miliknya, belum lama ini.
LombokPost – Nama Desa Loyok, di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, sudah lama harum sebagai jantung kerajinan anyaman bambu di Pulau Seribu Masjid, NTB.


Advertisement

Produknya telah melanglang buana dan memikat hati wisatawan mancanegara (wisman).

Namun sayangnya, para perajin kini dihadapkan pada tembok besar. Yakni mahalnya biaya pengiriman dan durasi logistik ke luar negeri.

Pemilik Loyok Yat Artshop Lalu Sopiandi menuturkan, daya tarik anyaman bambu Loyok sebenarnya sangat kuat di pasar internasional.

Advertisement

Namun, efisiensi pengiriman masih menjadi ganjalan utama bagi para pengrajin untuk melakukan ekspor secara mandiri dalam skala kecil.

"Kendala utama kami selama ini adalah waktu pengiriman yang terlalu lama dan biaya yang cukup mahal. Ini yang membuat kami lebih memilih melayani penjualan langsung di tempat," ujarnya.

Sopiandi bukan orang baru di dunia pariwisata. Berbekal pengalamannya sebagai pemandu wisata (guide) yang pernah menjajaki Bali, Sumbawa, hingga Flores, ia memahami betul posisi tawar kerajinan lokal.

Advertisement

Menurutnya, tamu-tamu yang ia bawa dari Kuta, Bali, selalu menyempatkan diri mampir ke Loyok hanya untuk melihat proses pembuatan anyaman.

Keunggulan Loyok terletak pada detail. Tercatat ada 26 motif anyaman berbeda yang diproduksi secara murni dari bambu berkualitas.

"Teknik pembuatannya pun berbeda-beda. Inilah yang membuat wisatawan merasa produk kami sangat otentik dibandingkan daerah lain," imbuhnya.

Meski era digital berkembang pesat, Sopiandi mengaku masih mengandalkan pemasaran konvensional dari mulut ke mulut. Kualitas produk yang berbicara sendiri melalui para tamu yang berkunjung.

Pada musim puncak kunjungan (high season) antara Juni hingga Agustus, Desa Loyok bisa dikunjungi hingga 50 wisatawan per hari. Namun, saat sepi, angka kunjungan merosot ke kisaran 10 orang per hari.

Menariknya, industri ini murni berbasis kerakyatan. Kerajinan tidak diproduksi di pabrik besar, melainkan di rumah-rumah penduduk.

"Masyarakat membuat kerajinan di rumah masing-masing. Tidak ada target mingguan, prinsipnya semakin cepat selesai, semakin cepat mereka mendapatkan bayaran," jelas Sopiandi.

Berbagai produk dihasilkan tangan terampil warga Loyok. Mulai dari tas, kap lampu, wadah nasi, dompet, tempat perhiasan, hingga boks oleh-oleh dan hand bag.

Di balik potensi ekonominya, Sopiandi menyimpan kekhawatiran mendalam soal regenerasi. Jika dahulu anak-anak usia 9 tahun sudah mahir menganyam, kini generasi muda cenderung lebih sibuk dengan kegiatan lain dan kurang berminat mendalami warisan leluhur ini.

"Pembinaan dan pelatihan sekarang sudah jarang. Saya sangat berharap anak-anak muda saat ini mau melestarikan kerajinan bambu Loyok. Ini bukan sekadar warisan budaya, tapi penggerak ekonomi nyata bagi warga desa," pungkasnya.

Pemerintah daerah diharapkan hadir tidak hanya dalam hal promosi, tetapi juga memberikan solusi atas kendala logistik. Termasuk penguatan kapasitas bagi perajin muda agar warisan emas dari Loyok ini tidak hilang ditelan zaman.

Advertisement
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kisah Nursihan, Perajin Keranjang Bambu di Desa Lando

Kisah Nursihan, Perajin Keranjang Bambu di Desa Lando

Selain di Desa Loyok, Desa Lando juga menjadi salah satu pusat kerajinan bambu di Lotim khususnya kerajinan keranjang bambu buah dan sayur.

Gawe Inan Dowe Jaga Warisan Anyaman Bambu Loyok

Gawe Inan Dowe Jaga Warisan Anyaman Bambu Loyok

Masyarakat Desa Loyok, Kecamatan Sikur, kembali menggelar event Gawe Inan Dowe ke-2. Event ini dilakukan untuk merawat warisan nenek moyang

Kerajinan Bambu Sidemen, Kriya Ramah Lingkungan

Kerajinan Bambu Sidemen, Kriya Ramah Lingkungan

Di  tangan kelompok perempuan tangguh di Dusun Sintung Barat, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, bambu tidak lagi sekadar menj

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer