
LombokPost - Suara ritmis dari alat tenun tradisional perlahan memecah kesunyian di sebuah sudut rumah panggung di Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Di sana, jemari lentur seorang anak muda tampak terampil memainkan benang, perlahan membentuk pola yang sarat akan nilai leluhur. Tradisi yang telah bertahan turun-temurun ini kini menghadapi tantangan zaman yang tidak mudah.
Eksistensi kain tenun Bayan tidak hanya diuji oleh selera pasar yang terus berubah, tetapi juga oleh persoalan regenerasi penenun.
Meskipun minat anak muda terhadap wastra mulai menunjukkan tren positif, keberlanjutan tradisi ini tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan bersama.
Baca Juga: Drakor The Remarried Empress, Kisah Pengkhianatan dan Perebutan Takhta di Istana, Tayang 4 November
Pelaku UMKM tenun sekaligus pengelola Wastra Lombok Tenun Bayan, BUMMA Bayan, Denda Suria Sari, menjelaskan, produk ini memiliki keunikan yang tidak ditemui pada tekstil biasa.
Setiap motif menyimpan cerita dan kaitan erat dengan kehidupan masyarakat adat setempat.
"Bahkan, kain ini masih menjadi bagian penting dalam berbagai prosesi ritual dan upacara adat," kata Denda saat berbincang mengenai filosofi kain tersebut.
Menurut Denda, kain ini tidak hanya sekadar pelengkap fesyen untuk kegiatan santai. Nilai sakral dan fungsi ritual membuat tenun Bayan memiliki kedudukan istimewa bagi masyarakat adat.
Baca Juga: Dorong Penguatan dan Zonasi Pedagang
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tenun tersebut tetap mampu bertahan di tengah gempuran tren fesyen modern.
Kabar baiknya, kesadaran generasi muda kini mulai tumbuh. Mereka tidak lagi melihat tenun sebagai busana kaku, melainkan sebagai fesyen yang bisa dipadukan dengan gaya kontemporer.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




