LombokPost-Tangan dingin Setiabudi, warga Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, berhasil menghadirkan kompor alternatif yang murah meriah, awet, dan ramah lingkungan. Kompor yang dibuat merupakan kompor berbahan bakar oli bekas.
Pemilik bengkel Las UD Mitra Usaha di Desa Samaguna ini merupakan seorang ahli las. Menariknya, ilmu dan keahliannya itu tidak didapat di sekolah teknik resmi. Melainkan pengalaman bekerja menjadi TKI di Korea Selatan pada periode 1994-1998 dan 2005 -2011.
UD Mitra Usaha didirikan pada 2014 lalu. Awalnya ia fokus untuk mengerjakan pesanan pembuatan pagar rumah, atap, dan reparasi kendaraan.
Namun di sela-sela kegiatan utamanya, ia meluangkan waktu untuk menciptakan berbagai mesin kebutuhan usaha. Di antaranya, mesin huller kopi kapasitas 50 ton sehari, mesin pemecah kacang, modifikasi mesin penggerak perahu dari mesin sepeda motor rusak, hingga kompor berbahan bakar oli bekas.
Kompor bekas ini didesain Setiabudi cukup sederhana. Terdiri dari konstruksi utama sebagai tempat duduk tungku, tungku bundar dari plat besi 6 mm, blower pendorong angin berkapasitas 220 volt. Penampung utama oli bekas kapasitas 2 liter keran air sumber keluarnya oli, pipa melengkung penghubung oli ke tungku. “Dan tambahan penutup blower yang bisa dibuka tutup untuk menyesuaikan angin ke tungku,” ujarnya.
Cara kerjanya juga sangat sederhana. Pertama, menghubungkan blower ke colokan listrik. Kedua, memantik api pada tungku menggunakan kertas, tisu bekas, atau barang lain yang mudah terbakar.
Setelah api pada tungku menyala, keran oli dibuka agar tetesan oli menetes ke tungku. Langkah berikutnya adalah menghidupkan tombol on/off pada blower sehingga memunculkan nyala api berwarna biru dan tak berasap. Setelah semua siap, maka proses memasak pada kompor ini pun bisa dimulai. “Untuk memfinalkan kompor sampai pada kondisi siap jual seperti sekarang ini, saya sudah melalui proses uji coba sebanyak 10 kali. Dari pemodelan rangka efektif maupun mengukur pemanasan,” bebernya.
Hadirnya kompor oli bekas ini, sambung dia, bermula dari inspirasi saat ia memperbaiki mata hand traktor. Saat itu, ia menyepuh mata traktor menggunakan oli. Ternyata pendinginan yang terjadi pada besi dari oli bekas membuat besi lebih keras.
Sejak itu, Budi pada tahun 2022, kemudian mulai mendesain kompor dari oli bekas. Ketika mendekati final, kompor tertunda karena banyaknya orderan. Ia pun baru bisa melanjutkan proyeknya pada 2024. “Dua bulan awal, sudah terjual 25 unit. Pesanan belakangan banyak yang masuk, termasuk dari Kalimantan. Tapi tidak berani kita penuhi karena terkendala pengiriman ke luar daerah,” bebernya.
Untuk kompor ini sendiri, Budi mengakui sangat cocok digunakan untuk usaha UMKM seperti pedagang gorengan, atau usaha kuliner. Kompor ini juga banyak digunakan oleh kelompok banjar untuk memasak menu pesta adat, karena volume dan intensitas kompor dapat digunakan 24 jam non stop.
Dari uji coba yang sudah ia lakukan, pemakaian setengah hari dengan nyala maksimal menghabiskan sekitar 2 liter oli bekas. Pada tahap ini, panas yang dihasilkan antara 350-600 derajat. “Untuk harga jualnya bervariasi. Seputaran KLU saya patok Rp 2 juta, luar KLU Rp 2,5 juta di luar ongkos kirim,” sebutnya.
“Terkesan mahal karena bahan besinya paten. Saya jamin busa dipakai seumur hidup, kecuali pada blower karena bisa aus sebab sering dipakai,” imbuhnya.
Setiabudi juga lebih merekomendasikan kompor digunakan pada alam terbuka, bukan dapur tertutup. Pasalnya, saat kompor dimatikan, asap karbon yang muncul dari sisa pembakaran dapat memenuhi ruangan tertutup dan tidak baik untuk kesehatan. (fer/r6)
Editor : Redaksi Lombok Post