Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pasokan Luar Terhambat Sebabkan Harga Cabai Rawit di NTB Jadi Mahal

Geumerie Ayu • Kamis, 26 Juni 2025 | 15:43 WIB

Pasokan luar terhambat sebabkan cabai rawit di ntb jadi mahal.
Pasokan luar terhambat sebabkan cabai rawit di ntb jadi mahal.
LombokPost - Harga cabai rawit di NTB menunjukkan tren kenaikan sejak beberapa pekan terakhir. 

Kenaikan ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan konsumen dan pemerintah daerah.

Berdasarkan pantauan harga di Pasar Mandalika, harga cabai mencapai Rp75 ribu per kilogram.

Sementara itu, di Pasar Dasan Agung tercatat Rp 85 ribu per kilogram.

Di Pasar Kebun Roek Rp 80 ribu per kilogram.

Angka ini mengalami kenaikan signifikan dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp65.000 per kilogram.

"Belum sampai menembus harga Rp90.000, jadi jangan sampai lah, karena memang harga cabai setiap hari naik dia dari Rp65.000," ujar Kepala Bidang Bapokting Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida, Selasa (24/6).

Kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga pada tomat.

Harga tomat kini menyentuh Rp 30 ribu per kilogram.

Padahal harga normalnya berkisar antara Rp 12-15 ribu.

Ada dua faktor utama yang diidentifikasi sebagai penyebab kenaikan harga ini.

Di antaranya, faktor cuaca dan terhambatnya pasokan dari luar daerah. 

"Di samping faktor cuaca juga disebabkan tidak ada pasokan dari luar yang masuk," katanya.

Saat ini, komoditas cabai dan tomat yang beredar di pasaran NTB merupakan produk lokal dari Lombok Timur dan Lombok Barat.

Pasokan dari Jawa (untuk cabai) dan Bali (untuk tomat) yang biasanya menjadi penyuplai utama, belum ada yang masuk.

Terhambatnya pasokan dari luar Lombok ini diduga kuat disebabkan oleh adanya demo truk Over Dimension Over Loading (ODOL) yang mengganggu jalur transportasi.

Hal ini berdampak langsung pada kelancaran distribusi logistik komoditas pangan dari luar pulau.

Untuk menstabilkan harga, pemerintah daerah melalui dinas terkait telah melakukan intervensi pasar dengan menggelar Kegiatan Operasi Pasar Keliling (Kopling).

Kegiatan ini telah dimulai sejak hari Minggu (22/6).

"Kalau kemarin, ketika terjadi kenaikan dari hari Sabtu kemarin, kita langsung aksi hari Minggu dengan mengadakan Kopling. Karena waktu hari Minggu itu harga di posisi Rp 65 ribu di pasar induk, dan di kopling kalau tidak salah harganya Rp 60 ribu,” jelasnya.

Nida melanjutkan, Kopling dilaksanakan secara berkesinambungan hingga Kamis, 26 Juni 2025.

Jadwal Kopling di antaranya pada hari Minggu (22/6) di Udayana (Car Free Day). Kemudian Senin (23/6) di Karang Anyar, Selasa (24/6) di Monjok, Rabu (25/6) di Banjar, dan terakhir di Abian Tubuh (26/6) pada Kamis.

Dalam setiap lokasi Kopling, disiapkan sekitar 25 kilogram cabai untuk dijual kepada masyarakat.

"Selain cabai ada juga minyak goreng Minyakita dengan harga Rp 15.500 per liter, bawang merah dan lainnya," tambahnya.

Baca Juga: 4 Film Indonesia ini Borong Penghargaan Internasional, yang terakhir dapat Penolakan Massal di Negara sendiri

Pemerintah berharap dengan adanya intervensi ini, harga cabai dan tomat dapat kembali stabil.

Evaluasi hasil Kopling akan dilakukan setelah kegiatan berakhir, mengingat harga cabai yang terkadang sangat fluktuatif.

Inaq Sumiatun, seorang pedagang di Pasar Induk Mandalika, Mataram, mengeluhkan harga cabai rawit terus meningkat.

"Sudah hampir seminggu ini harga cabai rawit naik terus. Pembeli banyak yang kaget dan mengurangi jumlah pembelian," ujarnya.

Ia menambahkan, pasokan dari petani juga tidak sebanyak biasanya. Hal itu yang dinilai turut berkontribusi pada kenaikan harga.

“Semoga pasokan ini bisa meningkat supaya daya beli ini naik,” pungkasnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Kota Mataram #Cabai Rawit #harga #naik #NTB #mahal #cuaca