Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana mengatakan, pasar modal adalah leading indikator atau indikator utama yang paling cepat merespons kebijakan dan kondisi ekonomi suatu wilayah.
"Pasar modal akan lebih cepat meresponnya (informasi dan kebijakan, Red) dibanding indikator ekonomi lainnya," ujar Sandiana, Kamis (13/11).
Menurutnya, kondisi ini tercermin pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang beberapa waktu lalu mencapai all time high di level 8.200.
Kenaikan IHSG ini secara langsung diikuti lonjakan volume transaksi dan kapitalisasi pasar.
Khusus di wilayah NTB, Sandiana mencatat adanya tren kenaikan aktivitas pasar modal yang signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk kebijakan terbaru pemerintah.
"Kita melihat ya, jadi tiga bulan terakhir ini cukup signifikan kenaikannya," bebernya.
Salah satu pemicu kenaikan adalah adanya penurunan suku bunga.
Penurunan suku bunga ini memicu shifting atau pergeseran penempatan dana masyarakat dari instrumen tabungan dan deposito ke produk pasar modal, seperti reksadana pasar uang.
Data BEI menunjukkan lonjakan fantastis transaksi saham yang berasal dari NTB.
Rata-rata normal (Januari - Juni), transaksi pasar modal dari saham-saham NTB rata-rata berkisar Rp 500-600 miliar per bulan.
Namun pada tiga bulan terakhir, angka transaksi per bulan melonjak drastis, menyentuh rata-rata Rp 1,3 triliun per bulan.
Lonjakan transaksi ini, menurut Sandiana, merupakan cerminan nyata dari kebijakan ekonomi yang mendukung dan kondusivitas daerah yang dinilai baik.
Hal ini sekaligus menjadi sinyal optimisme bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha di NTB dalam menghadapi tahun-tahun mendatang.
Editor : Siti Aeny Maryam